Kala Warga Bersiap Membangun 'Rumah' Peri Setyowati di Hutan Ngawi

Pria 'Menikahi' Peri

Kala Warga Bersiap Membangun 'Rumah' Peri Setyowati di Hutan Ngawi

Nograhany Widhi K - detikNews
Senin, 01 Jun 2015 16:04 WIB
Kala Warga Bersiap Membangun Rumah Peri Setyowati di Hutan Ngawi
Warga di sekitar Sendhang Ngiyom dan Sendhang Margo bekerja bakti (Foto: Godeliva D Sari)
Jakarta - Pembangunan rumah Peri Setyowati akah digelar dalam pagelaran seni kejadian (art happening) bertajuk "Dhanyang Setyowati Sukodok Membangun Rumah" di Hutan Begal pada 6-7 Juni 2015 mendatang. Warga sekitar sudah mulai bersiap dengan semangat membangun 'rumah' peri ini.

Seni kejadian "Dhanyang Setyowati Sukodok Membangun Rumah" ini digagas seniman nyentrik Bramantyo Prijosusilo yang bertujuan untuk menyelamatkan hutan Alas Begal yang dirambah warga menjadi sawah dan dua mata air di dalamnya, Sendhang Margo dan Sendang Ngiyom.

Berikut kegiatan warga dari foto dan keterangan yang dikirimkan pasangan seniman Bramantyo Prijosusilo dan Godeliva D Sari pada 25 Mei hingga 31 Mei 2015 menjelang acara seni kejadian pada 6-7 Juni 2015 nanti:

1. Jalan dan Jembatan Rusak

Tampak di sini, jalanan menuju kedua sendhang itu rusak. Kanan-kiri alas itu masih menjadi sawah. Sawah ini nanti akan dijadikan hutan kembali.Β 

(Foto: Godeliva D Sari)

Jembatan kayu menuju kedua mata air, beberapa bilah kayunya rusak dan membuat jembatan tidak utuh.

(Foto: Godeliva D Sari)

2. Pengurugan Jalan

Jalan menuju kedua Sendhang yang rusak mulai diuruk. Truk pengangkut pasir mulai membawa pasir-pasir urugan untuk perbaikan jalan.

(Foto: Godeliva D Sari)

Tumpukan pasir tampak berjejer di jalan menuju kedua Sendhang.

(Foto: Godeliva D Sari)

3. Tanaman Produktif di Hutan

Di antara tanaman hutan jati di hutan Dares, Kecamatan Widodaren, Ngawi, Jawa Timur juga ditanami tanaman produktif seperti kacang tanah.

(Foto: Godeliva D Sari)

4. Kerja Bakti Meratakan Jalan

Pada Minggu (31/5) kemarin sejak pukul 07.00 WIB, anggota Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Sekarputih dari beberapa dusun yang tergabung di dalamnya melakukan kerja bakti membersihkan dan meratakan jalan menuju mata air Marga Mustiko Warih.

(Foto: Godeliva D Sari)


Warga membawa cangkul, sabit dan mesin potong rumput sebagai alatnya. Semak-semak, rerumputan dan tanah yang berlubang dirapikan. Tawa ria mengiringi kerja mereka.

Jalan tanah berbatu menuju Sendhang Margo Mustiko Warih di beberapa lokasi ditumbuhi semak berduri dan di sisi lainnya dipakai penggarap hutan untuk ditanami singkong dan kacang tanah.

(Foto: Godeliva D Sari)

Saat istirahat sebentar setelah sekitar 2 jam bekerja bakti, seniman Bramantyo Prijosusilo menjelaskan gagasan dibalik seni kejadian ini. Para anggota LMDH duduk di tanah dan mendengarkan paparan dari Bramantyo.


(Foto: Godeliva D Sari)

"Kita memfokuskan keiklasan banyak orang dengan tujuan menyelamatkan mata air dan hutan. Untuk kerja bakti hari ini, kita fokuskan pada membersihkan tanah dari semak, tonggak dan duri supaya jangan sampai ada peserta kejadian ataupun seniman yang tampil terkena," jelas seniman berjenggot lebat ini.

Sedangkan Ketua LDMH Sekarputih, Sukamto melanjutkan bahwa kerja bakti ini tidak bisa dirasakan langsung hasilnya. Namun bila nantinya area ini berhasil dijadikan hutan lindung, maka air dari sendhang juga akan mengalir dan dinikmati manfaatnya oleh warga desa.

"Kita memang tidak mendapatkan airnya langsung tapi kerja bakti ini tetapi kegiatan ini tetap harus dilakukan karena nantinya area ini akan dijadikan hutan lindung yang akibatnya akan membuat air di sendangnya semakin besar. Kalau sudah begitu, limpahan airnyapun akan bisa kita nikmati. Lalu akan ada bantuan hijauan pakan ternak dan penandatanganan beberapa MOU dengan pemerintah kabupaten," ujar Sukamto.


(Foto: Godeliva D Sari)

Sementara para orang dewasa bekerja bakti, anak-anak bermain di kolam mata air Marga Mustiko Warih. Kerja bakti selesai pukul 11.00 WIB (Nograhany Widhi Koesmawardhani/Nurul Hidayati)



Berita Terkait