"Waktu itu pertama kalinya saya ke sana (Kantor DPP PDI di Jl Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat). Orang-orang banyak yang datang dan saya juga ikut isi buku tamu. Saya ini orang keenam yang isi buku tamu waktu itu," tutur Ganjar saat berbincang dengan detikcom, Senin (1/6/2015).
Karena banyak simpatisan berdatangan, maka Ganjar yang terbilang masih muda saat itu hanya menyumbang air mineral gelas kemasan. Ganjar mengaku banyak belajar dari tokoh-tokoh yang berorasi dalam acara mimbar bebas sebelum peristiwa itu.
"Yang pertama kali nganterin saya itu temen ya. Saya dulu nothing lah. Dulu yang nganterin Mbah Tarjo, dikenalin sama Mbak Mega. Saya beruntung lah bisa salaman sama Mbak Mega, saya duduk hampir tiap malem disana sama Mas Taufik Kiemas di dapur," kenang Ganjar.
Hampir tiap malam usai acara mimbar bebas di DPP PDI, Ganjar bertandang ke kediaman Megawati Soekarnoputri dan Taufik Kiemas di Kebagusan, Jakarta Selatan. Namun pada tanggal 27 Juli 2015 kebetulan Ganjar pulang kampung.
"Saya waktu itu pulang ke Purbalingga, Jawa Tengah. Kami mendengar ada operasi 'naga merah' saat itu," ungkap Ganjar.
Dia bercerita bahwa 'operasi naga merah' itu sebenarnya sudah lama terdengar oleh kader dan simpatisan PDI. Saat itu hanya diketahui sebagai rumor belaka yang dianggap untuk menakut-nakuti loyalis Megawati.
"Ya enggak tahu (apa itu naga merah), saat itu sandi-sandi saja. Kita kan enggak tahu soal itu kan. Yang kita tahu ada kejadian gawat. Pada nongkrong di rumahnya Mbak Mega. Orang pada seliweran, ya begitulah kondisinya saat itu," tutur Ganjar.
(Bagus Prihantoro Nugroho/Elvan Dany Sutrisno)











































