Delegasi terdiri dari 10 mahasiswa Belanda dari Vrije Universiteit, University of Amsterdam dan Erasmus School of Business Rotterdam itu diterima oleh Kuasa Usaha Ad-interim (KUAI) Ibnu Wahyutomo yang didampingi pejabat fungsi Politik dan Penerangan Sosial Budaya.
Delegasi perwakilan mahasiswa Belanda itu menanyakan vonis hukuman mati yang menimpa warga Belanda karena delik narkoba.
Mengenai isu ini KUAI Ibnu Wahyutomo menjelaskan proses hukum dan aturan hukum yang berlaku di Indonesia. KUAI juga meyakinkan perwakilan mahasiswa Belanda bahwa hubungan yang telah berjalan baik tidak akan terganggu oleh masalah tersebut.
Rick Otten menanyakan sebenarnya arti Belanda bagi Indonesia itu apa, terutama jika dibandingkan dengan negara-negara anggota Uni Eropa lainnya.
"Belanda mempunyai arti penting bagi hubungan bilateral dengan Indonesia, selain karena faktor sejarah juga karena manfaat yang dapat diambil dari hubungan kedua negara," jelas KUAI, sebagaimana disampaikan kepada detikcom di Den Haag, Minggu (31 Mei 2015).
Manfaat itu, lanjut KUAI, antara lain manfaat ekonomi, Belanda adalah salah satu pasar penting bagi produk Indonesia di Eropa. Juga di bidang pendidikan yakni dengan banyaknya mahasiswa Indonesia yang belajar di Belanda.
Maik van Oudenaarden menanyakan kontribusi apa yang bisa dilakukan generasi muda untuk meningkatkan pembangunan ekonomi di Indonesia.
KUAI mengatakan bahwa kontribusi itu antara lain berupa kiprah para pengusaha muda misalnya dari HIPMI, selain itu juga terdapat tendensi banyak anak muda Indonesia ingin mandiri dan menjadi wiraswasta.
"Jika teman-teman dari Belanda ingin bekerjasama, silakan bertukar pikiran dan tukar pengalaman dengan generasi muda Indonesia. Untuk itulah perlu dieratkan hubungan di antara kedua generasi muda," imbuh KUAI.
Peran Indonesia di kawasan dalam menyelesaikan konflik regional termasuk tentang ASEAN juga ditanyakan oleh anggota delegasi lainnya, Patrick Derring.
Minister Counsellor Politik Orina Ritonga menjelaskan secara singkat perkembangan ASEAN dan capaian Indonesia dalam membantu menyelesaikan konflik internal di Kamboja dan Filipina. Selain itu juga peran Indonesia dalam isu Laut Tiongkok Selatan yang masih terus berjalan.
Hubungan generasi muda kedua bangsa dan peran apa yang bisa dilakukan untuk mendekatkan hubungan kedua bangsa ditanyakan oleh Dimple Sokartara.
Menurut KUAI, salah satunya adalah melalui pemberian beasiswa bagi para pemuda Belanda yang berminat untuk belajar seni dan budaya Indonesia.
Kesempatan ini digunakan Minister Counsellor Pensosbud Azis Nurwahyudi untuk menjelaskan program Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia dari Kementerian Luar Negeri yang setiap tahun diberikan kepada 70 pemuda dari 50 negara, salah satunya adalah dari Belanda.
Para pemuda peserta diberi kesempatan belajar tari, musik, pencak silat dan Bahasa Indonesia di enam kota selama 3 bulan dengan biaya sepenuhnya dari Kemlu RI.
"Diskusi dengan mahasiswa ini merupakan salah satu kegiatan rutin KBRI Den Haag. Kegiatan serupa juga dilakukan di beberapa universitas, antara lain di Universitas Groningen, 27 Mei 2015 lalu," demikian Azis.
Sebelumnya, Sekretaris II Politik Monica Nilasari mengawali pertemuan dengan memberikan paparan komprehensif mengenai perkembangan Indonesia di bawah pemerintahan baru pimpinan Presiden Joko Widodo.
Monica memaparkan konsep Nawa Cita serta prioritas pembangunan antara lain bidang infrastruktur dan sumberdaya manusia, juga hubungan bilateral Indonesia-Belanda yang disebutnya berjalan dengan baik di berbagai bidang, termasuk politik, ekonomi, sosial budaya dan pendidikan.
(Eddi Santosa/Eddi Santosa)











































