IHH yang merupakan organisasi kemanusiaan terbesar di Turki dan memiliki puluhan ribu relawan, mengaku heran dengan Indonesia yang lebih mempersoalkan isu ISIS dibandingkan isu kemanusiaan akibat penindasan rezim Presiden Bashar al-Asaad.
"ISIS adalah isu yang sangat kompleks. Siapa ISIS? Siapa orang-orang itu? Bagaimana kelompok ini bisa muncul? Siapa yang mendukung mereka? Bagaimana mereka mendapat kekuatan besar dalam waktu singkat? Sangat banyak pertanyaan tentang ISIS," kata Koordinator Hubungan Internasional dan Diplomasi IHH Izzet Sahin saat diskusi bersama Forum Indonesia Peduli Syam (FIPS) dihadiri detikcom di kantornya, Istanbul, Turki, Jumat (29/5/2015).
Izzet mengatakan, banyak peperangan terjadi sebelumnya di Bosnia, Kosovo, Chechnya, Afghanistan dan negara lain, tapi tidak ada dari mereka mendeklarasikan negara di dalam negara. Sementara ISIS sebaliknya, bahkan mereka didukung rezim Suriah dan Irak menindas sipil.
"Untuk ISIS semua orang adalah kafir. Orang Sunni kafir, Syiah kafir, sampai mereka tunduk dan mendukung khilafah. Ini adalah paham ISIS," ujarnya dalam bahasa Inggris.
Namun, isu ISIS tidak lebih besar daripada krisis kemanusiaan yang dilakukan rezim Bashar untuk membunuh rakyat yang menginginkan rezim tumbang. ISIS hanya satu bagian kelompok dari tiga kelompok lain di Suriah yaitu Sunni, Syiah dan Kurdi.
"Rezim (Bashar) melancarkan bom setiap hari, sampai hari ini. Setiap dua menit rakyat Suriah diguncang bom. Kami menghabiskan beberapa minggu di Damaskus untuk negosiasi dan memediasi antara rezim dengan oposisi, dan kami melihat mereka membom rata-rata tiap dua menit," terang Izzet.
Krisis kemanusiaan itu mengakibatkan sebanyak lebih dari 300 ribu warga sipil Suriah tewas akibat kekerasan yang dilakukan rezim. Lalu 100 ribu lain hilang dan 6 juta lainnya kehilangan tempat tinggal.
"Ada 2 juta pengungsi Suriah di Turki hari ini. Lebih dari 1,5 juta di Lebanon, begitu juga di Jordania, 500 ribu di Irak. Hampir empat tahun, tidak ada yang tahu seberapa lama krisis ini," tuturnya.
IHH memberikan bantuan secara besar-besaran sejak tahun 2011 di Suriah dengan mendirikan rumah sementara dari kontainer di beberapa kota, kamp pengungsian, sekolah dan dapur darurat, serta lainnya.
Banyak relawan IHH yang dipekerjakan di Suriah untuk membantu para pengungsi, termasuk mereka yang ada di Turki. Sekedar diketahui, IHH saat ini juga tengah berada di Aceh untuk memberikan bantuan bagi pengungsi Rohingya.
"Indonesia adalah negara muslim terbesar, Indonesia punya mazhab yang berbeda, partai berbeda, ideologi berbeda. Namun mereka lupa bahwa mereka semuanya adalah muslim," kritik Izzet.
Hingga hari ini menurut Izzet, tidak ada bantuan baik dari pemerintah maupun organisasi kemanusiaan di Indonesia secara resmi untuk pengungsi Suriah. Padahal ada ratusan lembaga kemanusiaan di beberapa negara yang bergabung dengan IHH yang disalurkan ke Suriah.
"ISIS adalah masalah bagi rakyat Suriah, masalah bagi umat muslim, dan bagi kemanusiaan. Kita tidak punya alasan tidak membantu (pengungsi Suriah) karena ada ISIS," tegasnya seraya mengajak pemerintah atau NGO Indonesia melihat keadaan Suriah sesungguhnya.
"Jadi lupakan semua perbedaan dan ambil bagian atas isu kemanusiaan. Kita harus bersatu, meski berbeda mazhab," imbuhnya.
(M Iqbal/Nur Khafifah)











































