"Islah mereka, saya kira ini merupakan islah jangka pendek karena untuk kepentingan Pilkada. Tapi bagaimana pun itu langkah baik untuk mengatasi kebuntuan komunikasi antara dua kubu ini," terang pengamat Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Arya Fernandes, saat dihubungi, Sabtu (30/5/2015).
Menurut Arya, meski sudah islah bukan berarti partai berlambang pohon beringin itu terbebas dari tantangan. Justru ini menjadi ujian awal partai tersebut dalam membangun komunikasi yang demokratis melalui penentuan bakal calon kepala daerah.
"Cukup baik karena mereka realistis untuk bisa mengikuti Pilkada. Ke depan tantangannya bagaimana merumuskan formula penentuan calon kepala daerah. Bagaimanapun kandidat kepala daerah itu kan afiliasi masing-masing ada yang pro ke Ical (Aburizal Bakrie) dan Agung Laksono. Jangan sampai nanti dalam proses perumusan kandidat terjadi lagi konflik," lanjutnya.
Dia pun menyarankan ada baiknya partai membuat satu pasal keputusan tentang penetapan calon kepala daerah. Hal ini penting agar seluruh keputusan yang diambil oleh partai nantinya tidak digugat hingga berbuntut panjang.
"Saya kira mereka harus membuat satu pasal keputusan jadi apapun keputusan tim taktis itu kesepakatan karena ini bahaya jadi potensi menggugat tim kalau dianggap tidak adil. Jadi keputusan tim itu mengikat dan memastikan tidak ada konflik," tutup Arya.
Seperti diketahui, Agung Laksono dan Aburizal Bakrie dijadwalkan bertemu dengan Jusuf Kalla sore ini pukul 17.00 WIB. Baik Agung maupun Ical akan membawa saksi sebanyak 5 orang. Mereka nantinya akan disebut sebagai Tim Kesepakatan.
Sementara itu, kemarin JK sudah menunjukkan draf perjanjian hitam di atas putih yang akan diteken kedua kubu sore ini. Meski begitu, JK belum mau menunjukkan isinya.
Dia hanya melambaikan sebuah map yang dipegangnya sejak keluar dari ruang kerjanya. Di dalam map itu terdapat selembar kertas yang berisikan beberapa ketikan yang terdiri dari beberapa poin.
(Ayunda W Savitri/Tiarakami13)











































