Menlu Bot Klarifikasi Wirajuda Soal Penolakan Visa

Menlu Bot Klarifikasi Wirajuda Soal Penolakan Visa

- detikNews
Jumat, 18 Feb 2005 01:19 WIB
Den Haag - Menlu Belanda Bot telah kembali dari kunjungannya ke Indonesia. Hasilnya ia laporkan kepada parlemen, antara lain soal penolakan visa masuk RI.Demikian terungkap dari laporan superior Bezuidenhoutseweg (Pejambon-nya Belanda) tersebut, yang salinannya diberikan sumber detikcom di parlemen, Kamis malam ini atau Jumat (18/2/2005) pagi WIB. Dalam surat laporan kepada parlemen berkode DAO-113/05, bertanggal 14/2/05, Bot menyebutkan bahwa dia pada kunjungan kerja tanggal 4-6/2/2005 telah menemui kolega Menlu Hassan Wirajuda dan meminta klarifikasi soal sejumlah NGO dan anggota parlemen Belanda yang permohonan visanya untuk ke Indonesia ditolak. Atas hal ini, Menlu Wirajuda menurut Bot, berjanji akan menindaklanjutinya.Selain soal penolakan visa, Bot juga menanyakan perkembangan penanganan kasus Munir. Diungkapkan bahwa terkait kasus Munir ini pihak Indonesia akan kembali mengajukan permohonan bantuan hukum kepada Belanda, yang intinya akan memperhatikan kebijakan Belanda dalam hal hukuman mati (Belanda belum menyerahkan proses verbal yang konon mengarah ke pelaku, karena belum ada jaminan Indonesia tidak akan melaksanakan eksekusi hukuman mati, red).Pada bagian lain Bot mencantumkan laporan pembicaraanya di Jakarta dengan Menlu Wirajuda dan Wapres Jusuf Kalla mengenai isyu Aceh. "Dengan mereka saya antara lain membicarakan secara mendalam mengenai konflik Aceh. Dari situ jelas, bahwa pemerintah Indonesia bersedia untuk berdialog lebih lanjut dengan GAM, seperti dialog mutakhir atas mediasi mantan presiden Finlandia Ahtisaari, dengan syarat bahwa GAM menanggalkan tuntutan separatisnya," tulis Bot.Soal isyu Aceh ini lebih lanjut dijelaskan kepada parlemen, bahwa di bawah bendera otonomi Indonesia pasti bersedia untuk berkompromi. Diperkirakan bahwa masih akan diperlukan sejumlah putaran dialog sebelum progresi tertentu bisa diharapkan.Dari hasil kunjungannya langsung ke Aceh, Bot melaporkan bahwa dirinya sangat trenyuh melihat kehancuran yang luarbiasa akibat Tsunami dan derita kemanusiaan yang diakibatkannya. "Akibat tenaga air yang dahsyat, sebagian besar kawasan Banda Aceh tersapu dari permukaan bumi. Kapal laut yang terdampar beberapa kilometer masuk ke darat menjadi saksi dahsyatnya massa air," demikian Bot.Kepada parlemen Bot juga menyampaikan betapa rakyat di sana merasa sangat berterimakasih atas solidaritas dan bantuan dari seluruh dunia, antara lain dari rakyat dan pemerintah Belanda yang meninggalkan kesan cukup mendalam. Bot mencantumkan pula hasil pembicaraannya dengan Menteri Alwi Shihab dan Jenderal Bambang Darmono, yang mengutarakan soal kebutuhan mendesak atas infrastruktur jembatan untuk memulihkan perhubungan di Aceh."Atas hal itu saya menawarkan untuk mengirim 9 jembatan bailey Belanda (yang saat ini masih di tangan NATO) ke Aceh," papar Bot.Di Banda ia mengaku menyempatkan menemui organisasi-organisasi PBB dan Belanda seperti Novib, Hivos, dan Cordaid. Organisasi-organisasi tersebut, menurut Bot, puas dengan peranan TNI dalam memberikan bantuan dan rekonstruksi. "Mereka mendapat cukup bantuan dan akses untuk dapat melakukan tugas sebagaimana seharusnya," demikian Bot. (es/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads