Cerita Menteri Siti Soal Dampak Mengejutkan Gerakan #SaveSiJambulKuning

Cerita Menteri Siti Soal Dampak Mengejutkan Gerakan #SaveSiJambulKuning

Ahmad Toriq - detikNews
Jumat, 29 Mei 2015 11:23 WIB
Cerita Menteri Siti Soal Dampak Mengejutkan Gerakan #SaveSiJambulKuning
Jakarta - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar bersilaturahim ke kantor redaksi detikcom. Ketua DPP NasDem nonaktif tersebut bercerita banyak soal berbagai isu lingkungan hidup dan kehutanan, termasuk efek gerakan #SaveSiJambulKuning.

Kunjungan Siti didampingi sejumlah pejabat kesekjenan dan humas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Selama hampir dua jam, Siti dan tim redaksi berdiskusi soal masalah terkini yang dihadapi kementerian gabungan tersebut.

Yang menarik, Siti mengungkapkan dampak gerakan #SaveSiJambulKuning yang mempengaruhi sejumlah aspek di kementeriannya. Mulai dari perbaikan birokrasi, penataan administrasi, sampai menuju perbaikan aturan perundang-undangan.

"Bahkan sampai Komisi IV DPR mengajak kita diskusi soal pemberantasan perdagangan satwa liar. Ini belum pernah terjadi sebelumnya," cerita Siti, Kamis (28/5/2015).

DPR bahkan sudah menyepakati untuk memasukkan UU No 5 tahun 1990 dalam Program Legislasi Nasional tahun 2015. UU itu akan direvisi guna memperbaiki sejumlah hal, terutama terkait penegakan hukum terhadap para pelaku perdagangan satwa dilindungi.

"Jadi dampak gerakan ini sangat luar biasa," ungkap Siti.

Sejak digulirkan beberapa pekan lalu, saat ini sedikitnya ada 105 kakatua jambul kuning yang dikembalikan dari masyarakat untuk dilepasliarkan ke alam liar. Siti bercerita, di antara kakatua itu ada yang sudah bersama dengan pemiliknya selama 40 tahun, ada juga yang sudah diberi makan layaknya manusia, seperti sate ayam, bubur bayi dan lain-lainnya.

Burung-burung itu saat ini sedang memasuki masa karantina. Setelah itu, mereka akan direhabilitasi agar sifat liarnya kembali muncul. Baru kemudian akan dilepaskan ke alam liar. Siti mengatakan, ada kemungkinan juga sebagian burung akan dimasukkan ke penangkaran bila sifat alamiahnya sulit dikembangkan lagi karena saking lamanya berinteraksi dengan manusia.

Selain soal perdagangan satwa liar, Siti juga sedang fokus menangani berbagai masalah yang berhubungan dengan isu lingkungan hidup dan kehutanan. Mulai dari pertambangan ilegal, legalitas kayu, sampai menata hutan agar bisa produktif bagi kesejahteraan rakyat.

"Bahwa hutan itu harus untuk kesejahteraan rakyat. Hutan jangan hanya dilihat seperti tampak berpihak pada korporat saja, sekarang sudah konsentrasi bagaimana hutan ini menata penduduk kita yang miskin yang katanya ada di dalam hutan atau desa-desa di sekitar hutan," jelasnya.

Saat ini, Siti mencatat ada 35.000 desa yang berada di sekitar hutan. Jumlah warganya sekitar 40 juta dan sekitar 10 juta ada di dalam hutan.

"Ini yang ditata, hutan kemas, hutan desa, hutan tanaman rakyat," ceritanya.

Isu peredaran merkuri di Indonesia juga sedang disoroti oleh menteri yang pernah jadi sekjen di Kementerian Dalam Negeri tersebut. Bahayanya sudah terasa, dan kini sudah saatnya dilakukan perbaikan.

Kabar soal pencemaran di Danau Lido, Bogor, Jawa Barat, juga sudah didengar Siti. Dia akan mengirim tim untuk menyelesaikan masalah ini.

(Rachmadin Ismail/Nurul Hidayati)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads