Mahasiswa S3 RI yang Tersandung Pelecehan di MRT Singapura Dikenal Berprestasi

Nograhany Widhi K - detikNews
Kamis, 28 Mei 2015 15:16 WIB
(Foto: Kepolisian Singapura)
Jakarta -

Mahasiswa doktoral asal Indonesia, Irfan Syanjaya (26), dibui 6 pekan di Singapura karena dituduh melakukan pelecehan seksual dalam MRT. Selama menuntut ilmu, Irfan dikenal berprestasi di bidang sains.

Penelusuran detikcom, Irfan pernah tergabung dalam Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI) tahun 2006. Dalam situs tofi.or.id, Irfan saat tergabung tim TOFI masih bersekolah di SMAN 1 Karawang, Jawa Barat. Dia meraih penghargaan khusus saat mengikuti Olimpiade Fisika Asia (APhO) di Almaty, Kazakhstan.

Pada Olimpiade Nasional Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (ONMIPA) Perguruan Tinggi (PT) 2010, Irfan berhasil menyabet juara I bidang Fisika dan memberikan medali untuk Institut Teknologi Bandung (ITB). Dalam LinkedIn "Irfan Syanjaya" dia memang mencantumkan lulus S1 dari jurusan Fisika ITB selama periode 2006 – 2011.

Sedangkan pendidikan terakhir, tertulis "National University of Singapore Doctor of Philosophy (Ph.D.), Magnetic Nanostuctures and Spintronics
2012 – 2016".

Irfan dibui 6 pekan oleh pengadilan Singapura awal pekan ini karena terbukti melakukan perbuatan tidak senonoh kepada seorang mahasiswi berusia 20 tahun di MRT pada 12 Agustus 2014 lalu. Saat itu Irfan naik MRT pada sore hari di waktu yang padat dari Stasiun Buona Vista menuju Stasiun East Jurong. Korban mengaku dipegang bokongnya oleh Irfan dua kali.

Korban mengaku pertama kali merasakan disentuh bokongnya sebelah kiri saat MRT berjalan dari Stasiun Dover dan Clementi. Mahasiswi itu kemudian mencoba menjauhi Irfan, namun Irfan menyentuh bokong mahasiswi lagi setelah MRT melewati Stasiun Clementi.

Korban lantas marah pada Irfan, yang kemudian Irfan meminta maaf. Sedangkan penumpang lain berdatangan untuk membantu si mahasiswi. Irfan lalu ditahan petugas keamanan di Stasiun Jurong East.

Ada 3 saksi di pengadilan, yang semuanya mendukung keterangan sang mahasiswi. Ketiga saksi itu adalah Nur Sharida MD Farok yang mengatakan bahwa Irfan berdiri sangat dekat dengan mahasiswi itu yang memungkinkan bisa berbisik di telinganya.

Saksi kedua adalah Johan Tay yang mengatakan bahwa Irfan jelas-jelas beringsut mendekati mahasiswi itu. Johan mencoba menghentikan Irfan dengan menaruh tas di antara keduanya, namun Irfan tetap kukuh mendekatinya.

Irfan saat ini sedang berkuliah mengambil gelar doktoral (PhD) di bidang teknik komputer dan elektro di National University of Singapore.



(Nograhany Widhi K/Nurul Hidayati)