detikcom menemui konsultan pembangunan terminal, PT Indosakti Pancadipo Paragraha, di kawasan Pondok Betung Raya, Tangerang, Kamis (28/5/2015). Karena pimpinan konsultan sedang menemui Dishub DKI, wawancara dilakukan pada salah seorang karyawan bernama Putra yang tahu soal desain tersebut.
Putra menunjukkan tiga gambar, yakni desain perencanaan awal terminal yang masih 'lurus' arah masuk dan keluarnya, desain 'belok' karena masih ada gedung Sudin Jaktim, dan gambar gabungan keduanya.
"Desain awalnya memang lurus, karena terhalang gedung Sudin jadinya dibelokin. Kalau dibelokin itu kalau menurut saya juga nggak bisa dari arsiteknya pun kalau belum clear area itu nggak bisa," terangnya.

Putra mengaku sebagai draftsman, orang yang menerima memo untuk membuat gambar jalur, ukuran dan berbagai hal soal terminal tersebut. Dia menyebut gambar pertama dibuat dengan asumsi gedung sudin sudah tidak ada. Bahkan dalam desain, gedung itu jadi area parkir.
"Ini faktor mentok karena menghindari bangunan ini. Aslinya desain kita itu lurus jalurnya, bangunan sudin nggak ada," imbuhnya.

Dalam gambar gabungan dua desain, terlihat garis hitam adalah rencana awal dan garis merah adalah situasi terminal saat ini. Bangunan sudin tetap menjadi penghalang.
"Itu permasalahannya kenapa nggak mau dibongkar kita nggak tahu," terangnya.
Pihak Sudin menyebut, gedung tersebut memang sudah diajukan untuk dibongkar sejak tahun 2014. Namun karena proses birokrasi, sampai saat ini gedung tersebut masih berdiri. Ada proses lelang dan upaya penghilangan aset yang masih belum selesai.
Akibat gedung itu, desain yang seharusnya lurus kini jadi berbelok-belok. Akibatnya, bus-bus besar yang ingin masuk terminal harus melewati lajur yang sempit, bahkan sampai ada yang mentok ke tembok.
(Salmah Muslimah/Rachmadin Ismail)











































