Data-nya Cak Nur Masih Utuh
Kamis, 17 Feb 2005 16:46 WIB
Jakarta - Transplantasi hati dan sakit yang dialami selama berbulan-bulan tidak mempengaruhi kemampuan intelektualitas cendekiawan muslim Nurcholish Masjid. Cak Nur, demikian ia biasa dipanggil, masih mampu berpikir dan berkomukasi dengan baik."Data-nya sangat utuh," demikian Ibnu Sutanto, sahabat Cak Nur sekaligus sesama pendiri Perkumpulan Membangun Kembali Indonesia, menggambarkan kondisi tokoh yang dikenal karena kecendekiawanannya itu.Ibnu, yang berbicara dalam jumpa pers di Rumah Sakit Pondok Indah, Jl. Metro Duta, Pondok Indah, Jakarta, Kamis (17/2/2005), kemudian menggambarkan bagaimana Cak Nur masih bisa membaca Al Qur-an yang hurufnya sangat kecil-kecil.Cak Nur juga masih memiliki ingatan yang tajam. "Ibu (isteri Cak Nur, Ny.Omni Komaria, red) pernah lupa nomer kombinasi untuk kunci koper. Tapi ternyata Cak Nur masih ingat," ujar orang yang sering mendampingi Cak Nur selama dirawat di National University Hospital (NUH) Singapura ini."Jadi, secara intelektualitas Cak Nur tidak ada masalah," lanjut Ibnu. "Tak lama setelah kunjungan Presiden SBY (kepada Cak Nur di NUH Singapura, red), Cak Nur bicara kepada saya tentang apa yang bisa dilakukan ke depan untuk bangsa."Ditanya soal kondisi fisik Cak Nur, Ibnu menggambar selama perjalanan dengan pesawat terbang dari Singapura ke Jakarta Cak Nur sudah bisa duduk di kursi pesawat di kelas bisnis, bukan menggunakan kursi khusus dari rumah sakit. Alat bantu yang digunakan hanya kursi roda. Kursi roda ini dipakai saat menuju dan keluar dari pesawat. Cak Nur juga sudah bisa menggerakan tangan dan kaki, namun masih terlalu lemah untuk bisa berjalan.Kepala RS Pondok Indah dr. Hermansyur Kartowisastro, menjelaskan transplantasi hati di Cina dengan donor warga setempat tidak mempengaruhi cara berpikir Cak Nur, tidak menjadikannya berpikir dan berperasaan seperti orang Cina. "Yang ditransplantasi kan bukan otaknya," katanya dengan nada bercanda.Transplantasi dilakukan di Cina karena di negara ini lebih cepat mendapatkan donor. Orang Indonesia bisa menerima donor organ dari orang Cina karena sama-sama dari ras Asia, berbeda dengan orang Eropa yang sulit menerima donor dari organ orang Cina. "Sejauh ini tidak ada tanda-tanda penolakan terhadap hati dari donor yang ditransplantasikan," jelas Hermansyur.Cak Nur dirawat di NUH Singapura setelah menjalani operasi transplantasi hati di RS Taiping Guangdong, China, tanggal 23 Juli 2004. Ini karena Cak Nur mengalami pendarahan di saluran pencernaan beberapa hari pasca operasi yang berjalan lancar itu.
(gtp/)











































