Menurut mereka, pernyataan sikap dan imbauan yang disampaikan Fahmi Tamami itu memiliki arti penting untuk mencarikan solusi dari permasalahan yang berhubungan dengan kemanusiaan, etnis serta agama tertentu.
"Imbauan ini kami terima dengan sangat tulus dan dalam kesempatan ini dalam agama Budha disebut sebagai pertemuan yang ada sebab jodohnya. Tentu semua berniat baik untuk kemanusiaan," ujar Ketua Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) Suhadi Sendjaja di kantor Walubi, Jalan Abdul Muis, Jakarta Pusat, Rabu (27/5/2015).
Menurutnya, konflik etnis Rohingya tersebut terjadi bukan hanya saat ini. Beberapa tahun lalu hal tersebut pernah terjadi dan Walubi telah melakukan beberapa tindakan.
"Memang kejadian ini bukan terjadi sekarang, 2 tahun lalu sudah terjadi. Sehingga demikian setiap langkah sampai hari ini kami tetap konsisten menangani masalah ini," kata dia.
Pada 6 Agustus 2013, Walubi dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah membuat pernyataan sikap tentang nasib warga Rohingya di Myanmar. Selain menyatakan keprihatinannya, Walubi juga ikut mendatangi kedutaan besar Myanmar yang ada di Jakarta untuk menyatakan sikap mereka terhadap permasalahan yang menimpa etnis Rohingya.
"Dalam pernyataan sikap, kami minta pemerintah Rohingya tidak menggunakan kekerasan dalam penyelesaian konflik, dan juga meminta pemerintah RI berperan aktif untuk menyelesaikan masalah Rohingya tanpa kekerasan," ujar Suhadi.
Mereka pun sempat berkunjung ke Myanmar untuk bertemu langsung dengan perwakilan pemerintah disana terkait konflik etnis dan agama tersebut. Namun dirinya mengatakan, pada saat itu permasalahan yang terjadi waktu itu hanyalah seputar persoalan kewarganegaraan.
"Ternyata saat ini kita secara tak terduga menerima eksodus dari saudara kita yang terdampar di Sumatera Utara dan Aceh," jelasnya.
Berkaitan dengan itu, Walubi dan MUI pada 20 Mei lalu langsung membuat pernyataan sikap tentang pengungsi Rohingya yang terdampar di Indonesia, yang isinya antara lain:
1. Menyatakan keprihatinan yang mendalam atas permasalahan etnis Rohingya yang berdampak pada masalah sosial dan kemanusiaan
2. Kompleksitas permasalahan Rohingya antara lain status kewarganegaraan, sentimen keagamaan dan masalah sosial ekonomi. Dari peningkatan eksodus entnis Rohingya, sangat diperlukan kerjasama negara ASEAN untuk bersama mengatasinya.
3. PMI diminta membantu masalah pengungsi Rohingya yang akan terus meningkat
4. Mengimbau pemerintah Indonesia untuk dapat menggalang dukungan dengan negara ASEAN untuk menangani permasalahan pengungsi dan status kewarganegaraannya
5. Tanpa mencampuri urusan luar negeri Myanmar, kami mengimbau pemerintah Myanmar mengambil sikap fundamental terhadap warganya, sehingga tidak terjadi eksodus manusia perahu terus menerus
6. Meminta Indonesia menampung pengungsi di tempat penampungan khusus seperti tempat penampungan di Kamboja dan Myanmar
7. MUI dan Walubi bertekad melakukan kegiatan kemanusiaan untuk pengungsi Rohingya di Sumut dan Aceh.
(Rini Friastuti/Fajar Pratama)











































