Ikhwan Sejak 2003 Kumpulkan Bongkahan Akik, Sekedar Buat Pajangan di Taman

Ikhwan Sejak 2003 Kumpulkan Bongkahan Akik, Sekedar Buat Pajangan di Taman

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Rabu, 27 Mei 2015 16:18 WIB
Ikhwan Sejak 2003 Kumpulkan Bongkahan Akik, Sekedar Buat Pajangan di Taman
Semarang - Ikhwan Ubaidilah yang juga seorang pengusaha di Semarang ini mungkin berbeda dengan kolektor akik lainnya. Bila mereka menyimpan akik untuk dipakai buat cincin atau liontin, Ikhwan justru menaruhnya di taman. Untuk mempercantik dan menghias taman.

Ikhwan tinggal di atas tanah seluas 3.000 m2 yang dibagi untuk rumah tinggal dan taman di Jalan Griya Raharja nomor 26 A, Semarang. Pria yang saat ini menjabat sebagai ketua KONI Kota Semarang itu memang sejak dari tahun 2003 senang mendatangkan bongkahan batu dari berbagai daerah di Indonesia.

"Sejak tahun 2003, sebelum batu nusantara booming. Saya cuma untuk pajangan di taman, kolam, dan meja," pungkas Ikhwan, Rabu (27/5/2015).

Awalnya Ikhwan tidak menyadari batu-batu yang ada di tamannya itu bisa diolah sebagai batu akik yang berharga tinggi. Ia mengetahuinya setelah seorang teman memberi tahu.

"Setelah batu nusantara mulai muncul, saya masih belum tahu ternyata punya sebanyak ini. Teman-teman bilang ada batu akiknya, coba saya potong ternyata ada yang panca warna, bagus," ujarnya.

Meski sudah mengetahuinya, ternyata Ikhwan tidak begitu saja merubah sudut pandangnya terhadap bebatuan dari berbagai daerah itu. Ia tetap menggunakannya sebagai hiasan taman walau memang ada beberapa yang diolah menjadi batu akik dan kadang ia berikan kepada pekerjanya.

"Saya senangnya untuk koleksi di taman. Kalau lihat ada polanya hewan ya saya ukir. Ini ada yang pola mirip macan, nanti diukir bentuk macan. Ada pancawarna saya bentuk kucing," terang ketua Lindu Aji itu.

"Saya tidak begitu mengerti batu (akik), saya tahunya warnanya bagus," imbuhnya.

Namun hobinya mengoleksi bongkahan batu itu ternyata tetap terpengaruh oleh melejitnya pamor batu akik. Dulu ia membeli bongkahan batu dengan hitungan satu truk Rp 900 ribu ditambah ongkos kirim sesuai daerah asal batu.

"Sekarang hitungannya perkilo, sekilonya itu enggak boleh Rp 25 ribu," katanya.

(Angling Adhitya Purbaya/Indra Subagja)




Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads