Yohannes, salah satu mahasiswa Universitas Tarumanegara pernah ikut kelas yang diajar oleh Peter terkait struktur dan morfologi kota. Tema yang dibahas kala itu fokus pada perawatan air di Jakarta. Peter memang berlatar water dan transportation dari Technische Hochschule Darmstadt, Jerman.
"Kalau Pak Yan itu orangnya low profile. Dia kalau mengajar membagi ilmu tanpa ditutupi tanpa dia tahu, dia kepingin mahasiswa tahu. Yan punya banyak pengalaman," terang Yohannes saat dihubungi detikcom, Selasa (26/5/2015).
Yohannes mengikuti materi tentang cara pengelolaan air untuk dikonsumsi. Dia mengambil contoh pengembang di BSD yang menunjukkan gambar penampungan air sampai proses konsumsi. Informasi dari Peter sangat penting karena literatur mengenai air di Indonesia terbilang sedikit.
"Kalau di Jerman banyak, beliau membandingkan itu," imbuhnya.
Bagi Yohannes, Peter adalah seniornya. Mereka juga sama-sama berasal dari Nusa Tenggara timur. Peter dari Kupang, sementara Yohannes dari Atambua.
"Dia bilang kalau teman-teman mau, bisa diminta lagi waktunya. Dia Ingin mengajar lagi. Namun karena kebetulan bertabrakan dengan materi lain nggak punya waktu lagi ketemu lagi. Saat itu kebetulan habis mengajar kesibukan masing-masing kendala waktu susah kumpulnya," ceritanya.
Selain mahasiswa, Peter Yan juga meninggalkan kesan bagi pegawai administrasi pascasarjana Untar, Samikun. Mereka pernah berbincang ringan soal kemacetan.
"Dari yang saya kenal orangnya baik, suka kopi hitam dan sederhana orangnya. Dia suka bercanda kalau kita tanya kenapa Jakarta macet, dia selalu jawab Jakarta macet karena mobil belok kanan dan ngerem," terang Samikun.
Samikun menilai Peter layak jadi konsultan kemacetan. Peter dianggap sudah paham soal masalah tersebut karena mengerti secara teori dan situasi di lapangan.
"Ahok bisa makai dia jadi staf ahli soal kemacetan. Jadi orang di balik layar yang bisa mengurai kemacetan," harapnya.
(Septiana Ledysia/Rachmadin Ismail)










































