ADVERTISEMENT

Foto Kenangan Zaman Susah Ridwan Kamil Saat Kuliah di Berkeley

Avitia Nurmatari - detikNews
Selasa, 26 Mei 2015 12:57 WIB
Emil (kiri) dok. Instagram Ridwan Kami
Bandung -

Wali Kota Bandung Ridwan Kamil sempat mengunggah foto saat diwisuda di University of California, Berkeley di akun instagramnya. Gelar master Urban Design yang kini disandangnya tidak dengan mudah diraih. Dia mengaku sempat mengalami masa sulit. Begini penampakannya.

Di akun instagramnya tersebut Emil menuliskan keterangan foto "Graduation Day October 2002 wiyh fellows Indonesian. Master og Urban Design. University of California, Berkeley."

Terlihat Emil berpose bersama dua orang rekannya. Emil berada di sisi paling kiri. Dia tak mengenakan kacamata dan dari wajahnya terlihat masih kurus. Meski begitu, senyumnya tetap mengembang sama seperti yang kerap ditunjukkannya kini saat menjabat sebagai wali kota.

Kepada wartawan, Wali Kota yang hobi memakai peci tersebut mengisahkan pengalamannya kuliah S2 di University of California, Berkeley. Baginya, saat mengenyam pendidikan di negeri Paman Sam itu adalah masa-masa sulit yang pernah ia jalani.

Tahun 1997 Emil datang ke Berkeley dengan duit yang pas-pasan. Ia pun terpaksa terpisah dengan istrinya, Atalia Kamil, dan anak pertamanya, Emmiril Khan Mumtadz. Untuk makan sehari-hari, Emil pun hanya menjatah dirinya 1 USD setiap satu kali makan. Berat badannya pun tak segemuk saat ini.

"Saya makan setiap hari Chinesse Food, 1 dolar sekali makan. Berat badan kurus 65 kilo, sekarang 80 kilo," ujar Emil sambil tertawa mengenang masa lalunya itu.

Emil tak menyerah begitu saja pada keadaan. Ia kemudian mencari kerja paruh waktu dan diterima di Dinas Tata Kota Berkeley. Dari situlah ia mendapatkan biaya hidup di Amerika selama dua tahun. Namun masa-masa sulit itu berhasil dilewati Emil. Kerja kerasnya membuahkan hasil yang baik. Tesisnya mendapatkan nilai sempurna dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tinggi.

"Saya lulus tahun 1999, waktu wisuda sedih, gak ditemani anak istri. Tesis saya tentang transportasi di Singapura, nilai saya A. IPK saya 3,9. Waktu di ITB mah IPK saya cuma 2,7," ungkapnya sambil tertawa.



(Avitia Nurmatari/Rachmadin Ismail)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT