Kepada wartawan, Wali Kota yang hobi memakai peci tersebut mengisahkan pengalamannya kuliah S2 di University of California, Berkeley. Baginya, saat mengenyam pendidikan di negeri Paman Sam itu adalah masa-masa sulit yang pernah ia jalani.
"Itu teh zaman susah. Jadi dulu, saya diterima di 5 sekolah terbaik di Amerika. Dari 5 itu hanya Berkeley yang ngasih beasiswa, akhirnya saya pilih itu," kisah pria yang akrab disapa Emil itu usai mengisi acara di The Trans Luxury Hotel, Selasa (26/5/2015).
Tahun 1997 Emil datang ke Berkeley dengan duit yang pas-pasan. Ia pun terpaksa terpisah dengan Istrinya Atalia Kamil dan anak pertamanya Emmiril Khan Mumtadz.
"Karena saya nggak punya duit meskipun udah nikah, jadi waktu di Berkeley saya sendirian, nggak sama Bu Wali, nggak sama Eril (sapaan akrab Emmiril)," tuturnya.
Untuk makan sehari-hari, Emil pun hanya menjatah dirinya US$ 1 setiap satu kali makan. Berat badannya pun tak segemuk saat ini.
"Saya makan setiap hari Chinese Food, US$ 1 sekali makan. Berat badan kurus 65 kilo, sekarang 80 kilo," ujar Emil sambil tertawa mengenang masa lalunya itu.
Emil tak menyerah begitu saja pada keadaan. Ia kemudian mencari kerja paruh waktu dan diterima di Dinas Tata Kota Berkeley. Dari situlah Ia mendapatkan biaya hidup di Amerika selama dua tahun
"Karena saya nggak punya uang, saya kerja part time di Dinas Tata Kota di Berkeley. Karena bidang saya itu perancangan kota atau bahasa inggrisnya Urban Desain. Di sana saya bikin photoshop before after rencana-rencana kota di Berkeley," tuturnya.
Namun masa-masa sulit itu berhasil dilewati Emil. Kerja kerasnya berbuahkan hasil yang baik. Tesisnya mendapatkan nilai sempurna dengan Index Prestasi Kumulatif (IPK) tinggi.
"Saya lulus tahun 1999, waktu wisuda sedih, nggak ditemani anak istri. Tesis saya tentang transportasi di Singapura, nilai saya A. IPK saya 3,9. Waktu di ITB mah IPK saya cuma 2,7," ungkapnya sambil tertawa.
Saat mengenyam kuliah di Berkeley, Emil tak sendirian dari Indonesia, bersamanya saat itu yakni mantan Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono.
Mendengar kisah Emil yang butuh perjuangan keras untuk mendapatkan gelar master dari perguruan tinggi ternama di Amerika sungguh berbanding terbalik dengan banyaknya orang Indonesia saat ini yang mendapatkan gelar dengan ijazah palsu.
"Yang seperti itu mah orang-orang yang menurut saya tidak punya etos kehidupan yang baik. Orang yang hobi mengambil jalan pintas dan orang-orang yang menganggap gelar akan mengangkat derajatnya," tandasnya.
(Avitia Nurmatari/Rachmadin Ismail)











































