"Saya sudah kirim email ke BPOM dua kali tapi tidak ada tanggapannya, akhirnya inisiatif sendiri ke media sosial," kata Dewi saat dihubungi detikcom, Senin (25/5/2015). Beras itu dianggapnya aneh karena lama dimasak tak juga lunak dan menjadi bubur seperti biasanya. Pengkonsumsi beras itu juga mual.
Sarjana ekonomi Universitas Islam 45 Bekasi, Jawa Barat yang bekerja sebagai penjual nasi uduk dan bubur ayam itu membeli beras tersebut di toko yang telah setahun menjadi langganannya. Karena emailnya tak mendapat tanggapan, dia berinisiatif mengunggah ke media sosial untuk mengingatkan kepada teman-temannya akan bahaya beras tersebut. Dia pun tidak menyangka akan menjadi heboh seperti sekarang ini.
"Nggak nyangka (jadi ramai). Aku juga sempat shock. Shock sampai diperiksa polisi, sampai trauma. Kalau orang lain menyebut ini pujian, saya anggap ini ujian karena memang bukan saya saja yang diuji," ujar ibu tiga anak itu.
Dewi juga mengaku tidak ambil pusing terkait pihak yang menuding tindakan Dewi sebagai sebuah rekayasa. Baginya, yang terpenting adalah mengingatkan rekan-rekannya agar tak terkena dampak buruk dari beras temuannya itu.
"Kalau saya tidak melihat sisi negatif, karena awalnya saya niat baik insya Allah hasilnya juga baik, kalau sentimen negatif kita kembalikan ke pribadi-pribadi masing," tuturnya.
Dewi berharap pemerintah bertindak cepat atas kasus ini. Dengan demikian peredaran beras oplosan plastik dapat dihentikan dan diatasi.
"Ya supaya kasus ini bisa menjadi perhatian aparat negara atau institusi pemerintah, bisa mengurus masalah seperti ini sampai selesai, jangan sampai ada peredaran beras seperti ini terulang lagi," pungkasnya.
(Idham Khalid/Nurul Hidayati)











































