Kondisi ini pun dikeluhkan masyarakat baik yang berkunjung ke lokasi untuk berwisata kuliner maupun pedagang. Pungutan liar yang dibebankan para preman terhadap pelaku usaha pun membuat rugi para pedagang.
"Sehari mobil truk yang masuk itu dikenakan biaya di pintu masuk sebesar Rp 10-20 ribu," kata seorang pedagang yang mengaku bernama Wahyu, pedagang ikan di lokasi kepada detikcom, Senin (26/5/2015).
Wahyu mengatakan, dalam satu hari, ada sekitar 80 hingga 100 truk yang masuk ke pasar ikan di Muara Angke ini.
"Belum lagi mobil pribadi yang mau makan ikan di situ atau hanya sekadar beli ikan itu dimintai Rp 5 ribu dari pagi sampai malam. Seharian bisa ada 100 mobil pribadi yang masuk, tinggal kalikan saja tuh berapa keuntungan mereka," jelasnya.
Seorang warga Cipinang, Helmi yang pernah berwisata kuliner di tempat tersebut mengaku kapok makan ikan di Muara Angke. Ia punya pengalaman buruk ketika diminta uang parkir.
"Itu parkir kita diminta Rp 5 ribu. Waktu itu saya kasih Rp 10 ribu karena tidak ada recehan. Eh enggak dikembalikan, saya tagih alasannya enggak ada kembaliannya," ujar Helmi.
Ia juga pernah dikecewakan saat memakan ikan di lokasi. "Beli kepiting sekilo itu enggak nyampe Rp 100 ribuan, tapi ongkos masaknya itu sampai Rp400 ribuan," tuturnya.
Sementara itu, seorang pedagang lain yang enggan disebutkan namanya, mengaku dimintai uang hingga Rp 50 ribu. "Alasannya untuk biaya pengawalan. Itu duuitnya disetor ke kepala preman," ucapnya.
"Semalaman itu bisa dapet Rp 10-15 juta," tambahnya.
Sementara itu, seorang pedagang ikan, Mamat mengapresiasi tindakan yang dilakukan petugas Polres Pelabuhan Tanjung Priok dan TNI serta Trantib pada Sabtuu malam lalu.
"Kami terimakasih sama Pak polisi yang sudah menangkap preman-preman itu. Mudah-mudahan ini bisa seterusnya agar kita bisa berjualan dengan tenang," kata Mamat.
Sementara itu, Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok AKBP Hengki Haryadi mengaku, pihaknya juga menerima keluhan dari warga.
"Iya memang banyak warga khususnya pelaku usaha di sana yang mengeluhkaan premanisme di Muara Angke, sehingga kita bergerak dan melakukan operasi di lokasi," ungkap Hengki.
Perwira yang dikenal garang terhadap preman ini juga menyatakan akan menindak preman-preman hingga koordinatornya. Sebab, diduga, preman-preman tersebut terorganisir.
(Mei Amelia R/Prins David Saut)











































