"Dia mendukung. Nek rekoso yo rekoso bareng (kalau sengsara ya sengara bersama)," kata Kadiyono kepada detikcom di rumahnya, Dusun Jagalan, Desa Boja, Kecamatan Boja, Kendal, Jawa Tengah, Minggu (24/5/2015).
Sebetulnya, Kadiyono mengajar di beberapa sekolah. Terakhir, selepas meraih gelar Magister Manajemen Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), dia hanya mengajar di SMA PGRI. Kegiatan mengajar itu dilakukan pagi hingga siang. Sedangkan siang atau sore, ia menghabiskan waktu di bengkel tambal ban tak jauh dari rumahnya.
"Ya kalau pagi memang (mengajar) sekolah. Kalau bengkel sampai malam," tutur istri Kadiyono, Mutmainah (45), sambil masuk ke rumah usai mengantarkan minuman.
Sore itu, Kadiyono tampil ala apanya. Kaos warna gelapnya lusuh. Tangannya menghitam karena oli. Sesekali saat tetangga melintas, Kadiyono menyapa.
Kadiyono lulus sarjana dari Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) Semarang pada tahun 2011. Setelah memiliki modal, 7 tahun kemudian, ia melanjutkan kuliah pascasarjana di UMS dan lulus pada tahun 2012. Meski demikian, usaha tambal ban tetap dilakukan.
Soal belajar, Kadiyono tak ingin berhenti. Pria beranak 3 ini bercita-cita meraih gelar S-3 dan mendirikan SLB. Ia berusaha mencari beasiswa. Di sela mewujudkan cita-cita, pria yang pernah bekerja di proyek dan mengajar di SLB ini tetap membuka usaha tambal ban.
(Angling Adhitya Purbaya/Triono Wahyu Sudibyo)










































