BNP2TKI dan OJK Gelar Pendidikan Keuangan dan Wirausaha Bagi TKI di Jepang

BNP2TKI dan OJK Gelar Pendidikan Keuangan dan Wirausaha Bagi TKI di Jepang

Elvan Dany Sutrisno - detikNews
Senin, 25 Mei 2015 13:14 WIB
BNP2TKI dan OJK Gelar Pendidikan Keuangan dan Wirausaha Bagi TKI di Jepang
Jakarta - BNP2TKI terus mendidik TKI yang berada di luar negeri. Menggandeng Otoritas Jasa Keuangan (OJK), BNP2TKI menggelar edukasi keuangan dan kewirausahaan bagi TKI di berbagai negara.

Pekan ini, edukasi keuangan dan kewirausahaan itu digelar di Tokyo. Pekan lalu, kegiatan yang sama dilakukan di Hong Kong bersama Bank Mandiri dan di Taiwan bersama Bank BNI.

Dalam siaran pers yang diterima, Senin (25/5), disebutkan bahwa materi yang diberikan dalam acara edukasi tersebut adalah pengenalan lembaga dan produk jasa keuangan, seperti perbankan, asuransi, pembiayaan, pasar modal, dan lembaga keuangan mikro. Selain itu, ada juga materi tentang perencanaan dan pengelolaan keuangan.

"Saya terima kasih ke OJK yang komitmen melakukan literacy keuangan kepada yang belum beruntung, salah satunya TKI. Sebab banyak di antara mereka (TKI) yang waktu mau berangkat utang dan waktu pulang kembali jual tanah, karena tidak bisa mengelola uang hasil kerjanya. Ini penting harus diedukasi," ujar Nusron dalam pembukaan edukasi di Sekolah Republik Indonesia Tokyo, Jepang, Minggu (24/5) kemarin.

Acara yang diikuti sekitar 200-an orang itu juga menghadirkan pembicara Deputi Komisioner OJK Edukasi dan Perlindungan Konsumen Sri Rahayu Widodo, Direktur Pelayanan Konsumen Sondang Martha Samosir, Kepala Cabang BNI Tokyo dan beberapa pejabat di lingkungan KBRI Tokyo Jepang.

Menurut Nusron, banyak TKI di luar negeri yang gagal karena lebih disebabkan tidak bisa mengelola uang yang didapat dengan baik dan produktif. Menjadi TKI, kata Nusron, seharusnya hanya sasaran antara atau jembatan menuju sukses dalam menata masa depan.

"Banyak yang terjebak pola hidup konsumtif, sehingga mau pulang malu, dan akibatnya banyak yang jadi overstayer. Jangan sampai orang jadi TKI seumur hidup. Uang yang sudah didapat harus dimulai untuk belajar berusaha dan ke depan harus menjadi pengusaha," ujar Ketua Umum GP Anshor ini.

Di Jepang, ada sekitar 30 ribu WNI, 14 ribu di antaranya pekerja dengan mekanisme G to G antara pemerintah Indonesia dan Jepang. Ada yang menjadi tenaga magang (kenshushei) di perusahaan manufaktur, konstruksi, jasa dan pertanian, tenaga perawat (kangoshi) dan careworker (kaigofukushishi).

Gaji yang TKI di Jepang ada di kisaran 120.000 yen sampai 250.000 yen, atau sekitar Rp 15 juta sampai Rp 30 juta per bulan. Dari pendapatan tersebut devisa yang dikirim melalui remitansi mencapai sekitar Rp 2 triliun setiap tahunnya.

"Ke depan, dengan ditutupnya Timur Tengah, yang akan ke Jepang tambah banyak. Apalagi akan ada proyek olimpiade di Jepang. Devisa juga akan tambah meningkat," kata Nusron.

(Elvan Dany Sutrisno/Ahmad Toriq)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads