"Sama teman-teman S2 itu sudah ngomong-ngomong, nyari beasiswa dulu. Ya mungkin ke UNNES atau yang ada di Bandung. Kuliah Jumat Sabtu juga," kata Kadiyono kepada detikcom di tempat bekerjanya di Dusun Jagalan, Desa Boja, Kecamatan Boja, Kendal, Jawa Tengah, Minggu (24/5/2015).
Selain jadi dosen, Kadiyono juga bermimpi membangun SLB. Pengalamannya mengajar selama bertahun-tahun digunakan sebagai modal mengajar jika SLB miliknya berdiri kelak. Ia ingin SLB-nya diberi nama SLB Insan Tiara Bangsa (ITB) Plus.
"Singkatannya ITB, hehe. ITB bisa juga institut tambal ban buat saya, hehe. Ini masih kami bahas (mendirikan SLB). Saya dan teman-teman ada lima orang tapi belum ada yang PLB padahal itu syarat mendirikan SLB," terangnya.
Keinginannya untuk terus menjadi pengajar didasari untuk menambah ilmu. Karena menurut dia ilmu selama bersekolah dan kuliah tidak akan berkembang jika tidak ditularkan.
"Katanya ilmu bisa bertambah kalau diajarkan. Saya kalau tidak ngajar tidak tahu apa-apa soal SLB," tegasnya.
Kadiyono lulus S-1 dari Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIK) Semarang pada tahun 2001 dan S-2 di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) pada tahun 2012. Sehari-hari, pagi hingga siang ia mengajar di SMA PGRI. Siang hingga malam, ia menghabiskan waktu di bengkel usaha tambal bannya di dekat rumahnya.
(Angling Adhitya Purbaya/Triono Wahyu Sudibyo)











































