Sejak awal sebenarnya Akbar Tandjung sudah menawarkan diri menjadi mediator penyelesaian kisruh Golkar. Namun eks Ketum Golkar yang kini jadi Ketua Wantim Golkar hasil Munas Bali tersebut tak diterima sebagai mediator, meskipun Akbar bisa dibilang sebagai penyelamat Golkar di awal era reformasi.
"Kami sangat menghormati Bang Akbar Tandjung. Beliau mantan ketua umum dan senior, tetapi kita menolak sebagai mediator, karena mediator harus netral. Kita sayangkan beliau mencla-mencle di mana masyarakat belum lupa atas pernyataan-pernyataan dan keberpihakan di kubu Ical," kata salah satu ketua DPP hasil Munas Jakarta, Leo Nababan, dalam pesan singkat kepada detikcom, Jumat (19/12/2014) lalu.
Meskipun ditolak jadi mediator, Akbar terus mengupayakan islah Golkar. Terakhir Akbar mendorong digelarnya Munaslub untuk menyudahi konflik Golkar dan memastikan partai beringin tak ketinggalan pilkada serentak. Akbar mengklaim banyak DPD I dan DPD II Golkar setuju dengan gagasannya. Namun demikian gagasan Akbar kembali ditolak mentah-mentah, bahkan kali ini kubu Aburizal Bakrie (Ical) pun tak setuju.
"Munaslub dalam organisasi dimungkinkan, tapi tak sesederhana yang disampaikan Akbar Tandjung. Penyelenggaranya siapa? DPP yang mana? Pesertanya ketua DPD I dan II, yang mana?" kata Ketua DPP Golkar kubu Ical, Tantowi Yahya, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (25/5/2015).
Sama dengan kubu Ical, kubu Agung Laksono juga menolak gagasan ini. Wajar saja gagasan Akbar tak dianggap, lantaran eks Ketum Golkar yang lain yakni Jusuf Kalla jauh mudah diterima. JK yang kini duduk di kursi RI 2 menawarkan solusi sementara agar Golkar bisa ikut pilkada. Meski dianggap Akbar sebagai solusi yang belum jelas namun bagi kubu Ical dan Agung ini solusi cerdas.
"Itu gagasan cerdas meski jangka pendek. Kita berpikir positif, mungkin dari jangka pendek bisa tercapai islah sesungguhnya. Ini bisa jadi entry point," tutur Tantowi.
Kini saat gagasan Akbar ditolak JK justru terus melakukan pertemuan dengan elite kedua kubu. Namun tenang saja, karena kubu Ical berwacana akan melibatkan Akbar dalam rencana islah ini.
(Elvan Dany Sutrisno/Nurul Hidayati)











































