Kecelakaan Pesawat, Lion Air Vs Angkasa Pura I Perang Iklan
Kamis, 17 Feb 2005 11:05 WIB
Jakarta - Awal masalahnya adalah kecelakaan pesawat Lion Air di Bandara Adi Sumarmo Solo pada 30 November 2004. Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah mengumumkan hasil investigasi kecelakaan yang mengakibatkan 25 penumpang dan kru tewas itu. Tapi, setelah itu, Lion Air dan Angkasa Pura I malah berpolemik melalui iklan. KNKT menggelar jumpa pers di kantor Departemen Perhubungan (Dephub), Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat tentang hasil investigasi kasus kecelakaan Lion pada Selasa (8/2/2005). Dalam jumpa persnya, KNKT menjelaskan panjang lebar tentang penyebab kecelakaan plus rekomendasinya. Hasil investigasi KNKT ini tentu sangat penting, termasuk bagi masakapai Lion Air dan juga PT Angkasa Pura I yang mengelola bandara Adi Sumarmo. Tapi, sayangnya hasil investigasi KNKT ini malah dijadikan polemik antara dua pihak ini. Pihak Lion Air yang pertama berinisiatif beriklan untuk menyampaikan ke publik tentang hasil KNKT. Lion Air beriklan di media cetak nasional pada Selasa (15/2/2005). Iklan disajikan seperempat halaman. Meski advertorial, namun iklan Lion Air itu dibuat mirip seperti berita. Tidak ada keterangan sedikit pun bahwa iklan itu dibuat oleh Lion Air. Namun, dilihat dari isi iklannya, orang gampang menduga bahwa iklan itu memang dikeluarkan Lion Air. Iklan itu berjudul 'KONDISI LANDASAN, PENYEBAB KECELAKAAN LION AIR'. Selain berhuruf kapital, judul iklan tersebut juga dibold. Isi iklannya? Dilihat dari judulnya saja, sudah jelas bahwa iklan itu berisikan hal-hal yang menguntungkan Lion Air saja. Dari judul, seakan-akan terlihat bahwa kecelekaan Lion Air hanya disebabkan oleh kondisi landasan bandara, yang tentu menohok PT Angkasa Pura I sebagai pengelola bandara Adi Sumarmo. Dalam isi iklannya, iklan itu menuliskan bahwa kecelakaan Lion Air disebabkan kondisi landasan yang tergenang air (hydroplanning). Akibatnya, efektivitas pengeremen pesawat saat mendarat tidak bekerja sehingga pesawat meluncur ke luar landasan pacu, menghantam tembok, dan masuk ke lokasi pemakaman umum. Lion Air membuat iklan itu mengklaim sebagai hasil investigasi KNKT. "Berdasarkan fakta dan hasil analisis tim KNKT, genangan air di bandara (hydorplanning) menyebabkan hilangnya efektivitas pengereman di mana ketika mendarat, roda pesawat tidak mendapat gesekan dari landasan dan mengakibatkan pesawat meluncur hingga keluar landasan pacu. Kondisi tersebut bertambah parah, karena adanya dorongan angin dari belakang sebesar 13 knot yang mengakibatkan bertambahnya jarak meluncur pesawat," papar Ketua Tim Investigasi KNKT Ertata Lanaggalih. Kalimat ini tertulis dalam alinea 3 iklan tersebut. Dalam iklan tersebut, juga dituliskan penjelasan bahwa kondisi pesawat dan awak dalam kondisi baik, pesawat dalam kondisi laik terbang dan tak ada masalah teknis. Juga dijelaskan bahwa pesawat sebenarnya sudah medarat secara normal. Di bagian akhir, iklan ini menjelaskan tentang rekomendasi KNKT terhadap perbaikan kondisi bandara. Nah, seakan meluruskan materi iklan itu, Kamis (17/2/2005), gantian PT Angkasa Pura I yang beriklan. Sama, iklan juga dimuat di sejumlah media cetak nasional. Dalam beriklan, PT Angkasa Pura juga jelas membeberkan kop iklan dan juga si pemasang iklan, yaitu Corporate Secretary PT Angkasa Pura I Markus Tries Tuwo. Iklan PT Angkasa Pura ini juga disajikan seperempat halaman. Judulnya 'PENYEBAB KECELAKAAN LION AIR DI BANDARA ADISUMARMO-SOLO' tanpa di-bold. Di awal isinya, iklan itu berbunyi 'Menanggapi advetorial di beberapa media cetak terbita Selasa, 15 Februari 2005 dengan judul 'KONDISI LANDASAN PENYEBAB KECELAKAAN LION AIR' dapat disampaikan hal-hal sebagai berikut'. Iklan Angkasa Pura I ini sepertinya memang secara khusus menanggapi iklan Lion Air itu. Di dalam iklan ini, PT Angkasa Pura menjelaskan tantang penyebab-penyebab kecelakaan hasil investigasi KNKT. Tentu, tidak hanya hydroplanning, sebagai penyebabnya. Selain hydproplanning, faktor-faktor yang berkontribusi atas kecelakaan pesawat tersebyt adalah tertutupnya spoiler an trust reserver engine, tail wind 13 knot, dan pindasi localixer. Iklan juga menjelaskan tentang kondisi bandara Adisumarmo beserta kelengkapan fasilitasnya. Seperti bandara memiliki landasar pacu 2.600 meter. Kondisi cuaca saat pesawat Lion Air mendarat juga disajikan. Pada poin 5 disebutkan juga, pada pukul 17.55 WIB (sebelum kejadian), GA 224 Jakarta-Solo telah mendarat dengan sempurna, dengan kondisi cuaca yang tidak jauh berbeda. Di bagian akhir iklan, ditulis sebagai berikut: "Menurut analiasa KNKT, pesawat Lion menyenyuh landasan pada posisi 500 meter dari ujung landasan pendaratan, sehingga LDA (landing distance available) masih tersisa 2.000 meter, sementara untuk MD 82 diperlukan landing roll sepanjang 1.500 meter". Akankah 'perang' iklan ini berlanjut?
(asy/)










































