Salah satunya adalah ketika ia mendapat penumpang warga negara Vietnam. Perempuan yang membawa 2 anak itu kaget dengan kelancaran Peter berkimunikasi dengan Bahasa Inggris hingga memberinya upah berkali lipat dari yang seharusnya dibayarkan.
"Dia naik dari Plaza Senayan ke apartemen di Permata Hijau. Dia kaget saya bicara Bahasa Inggris lancar. Kami ngobrol, dan saya bilang dia cantik seperti Celine Dion," kata Peter diiringi tawa di kantor taksi Express Group, Jl Sukarjo Wiryopranoto, Sawah Besar, Jakarta Pusat, Jumat (22/5/2015).
Perempuan tersebut kemudian menanyakan berapa penghasilannya sebagai sopir taksi di Indonesia. Kala itu, kata Peter, sistem pemberian upah di Express Group menggunakan sistem setor, di mana setiap harinya sang sopir harus menyetor dengan jumlah tertentu kepada perusahaan.
"Tiba-tiba setelah turun, dia kasih saya Rp 300 ribu. Katanya supaya saya tidak kerja lagi hari itu. Kagetlah saya. Itu sangat kebanyakan karena harusnya cuma Rp 15 ribu," kata pria bergelar Dipl-Ing ini.
Peter mengaku heran sekaligus senang. Sepanjang jalan ia berpikir mengapa penumpang tersebut begitu bermurah hati.
"Jangan-jangan karena saya bilang dia mirip Celine Dion. Ah seperti anak muda saja saya ini," seloroh pria beranak 3 ini.
Pengalaman lain, Peter mengaku pernah mendapat penumpang yang merupakan istri temannya. Ibu tersebut kaget melihat Peter yang mengemudikan taksi yang akan ditumpanginya.
"Dia kaget dan tanya kenapa (jadi sopir taksi)," kata pria yang merupakan dosen tamu pengajar S2 di Universitas Tarumanegara ini.
Aji Prasetyo, salah seorang dosen di Malang menjadi sosok yang terkesan dengan Peter. Bahkan dia memposting testimoni soal pria yang menjadi dosen tamu di Universitas Tarumanegara tersebut di facebook-nya.
@pameranRetrospeksi, hari ke-2Kau tahu siapa nama sopir taksi eagle yang mengantar kami kemarin siang?Namanya Pak...
Posted by Aji Prasetyo on Friday, May 8, 2015
Kejadian semacam itu, kata Peter tak hanya terjadi satu-dua kali. Namun tak sedikit juga yang mengapresiasi langkahnya menjadi sopir taksi dan misinya menguasai penyebab kemacetan di Jakarta.
"Kita memang mempunyai dilema menjadi sopir taksi. Karena di Indonesia, sopir taksi memiliki image yang relatif tidak tinggi. Tapi menurut saya ini tidak perlu dipermasalakan," tuturnya bijak.
(Nur Khafifah/Rachmadin Ismail)











































