Cara Pintar Menerobos Kemacetan Jakarta Bersama Sopir Taksi Lulusan Jerman

Lulusan Jerman Jadi Sopir Taksi

Cara Pintar Menerobos Kemacetan Jakarta Bersama Sopir Taksi Lulusan Jerman

Nur Khafifah - detikNews
Senin, 25 Mei 2015 11:40 WIB
Cara Pintar Menerobos Kemacetan Jakarta Bersama Sopir Taksi Lulusan Jerman
Jakarta - Meskipun usia telah memasuki paruh baya, semangat Peter Yan (58) untuk bekerja dan mengabdi kepada negeri tak pernah surut. Pria lulusan teknik sipil Technische Hochschule Darmstadt, Jerman ini masih mau menjadi sopir taksi untuk menguasai permasalahan klasik di Jakarta yang tak kunjung usai, yaitu kemacetan.

detikcom berkesempatan menumpang taksi Eagle yang dikemudikan oleh Peter pada Jumat (22/5/2015) lalu. Pria yang sempat menjadi dosen tamu mata kuliah Water and Transportation untuk kelas S2 Universitas Tarumanegara ini melayani penumpang dengan ramah dan menyetir taksi dengan nyaman. Sepanjang perjalanan pria yang berasal dari keluarga militer ini banyak bercerita tentang kemacetan di Jakarta dan berbagi pengalaman hidup.

Taksi bergerak dari Jl Sukarjo Wiryopranoto, Jakarta Pusat, dengan kecepatan rendah ke arah Warung Buncit, Jakarta Selatan. Kebetulan rute yang dilewati, hampir seluruhnya merupakan kawasan macet. Apalagi waktu saat itu menunjukkan pukul 15.30 WIB, hari Jumat. Di mana waktu tersebut merupakan saatnya orang-orang pulang bekerja dan bersiap menikmati akhir pekan.

"Nah dengan melintasi kemacetan seperti ini kan saya tahu di mana saja titik macet, kapan dan apa penyebabnya. Saya bisa saja memilih diam menghindari macet. Tapi kalau semua orang tak peduli, bagaimana kemacetan di Jakarta akan terselesaikan?" urai pria asal Kupang, NTT ini.

Peter mengaku telah melakukan banyak kajian untuk mengatasi kemacetan di Jakarta. Di antaranya dengan menyusun konsep pembuatan busway dan mendesain beberapa tol di Jakarta. Ia juga bercerita tentang kehidupannya, termasuk alasan memilih kuliah di Jerman.

"Nggak ada alasan khusus. Ya dulu anak 19 tahun mana mikir kampus mana-kampus mana, yang penting saya lulus SMA lalu bisa sekolah di luar negeri, itu keren sekali. Di Jerman lagi," katanya diiringi tawa.

Peter menghabiskan waktu di Jerman selama 13 tahun. Sementara kuliahnya ia selesaikan selama 10 tahun, yaitu dari tahun 1977-1987.

"Kuliah saya gratis. Tapi saya harus kerja untuk penuhi kehidupan sehari-hari makanya lama," katanya sambil terkekeh.

Dari menjajakan koran hingga menjadi asisten dosen pernah dilakoninya selama di Jerman. Yang penting, pendidikan harus ia tuntaskan.

Tak sia-sia, dengan menyematkan gelar Dipl-Ing di belakang namanya, ia pulang ke negeri ini dan membawa segudang ilmu teknik sipil. Peter kemudian banyak membuat konsep tentang tata kota, air dan transportasi hingga saat ini.

Di salah satu analisisnya, Peter melihat ada 700an simpul jalan yang salah. Karena itu, dia memberi tips agar pengendara bisa menghindari simpul tersebut, dan kepada Pemprov DKI agar memperbaikinya. Setelah itu, baru fokus pada penegakan hukum dan lainnya. (Nur Khafifah/Rachmadin Ismail)



Berita Terkait