Wajah Tak Kuyu Layaknya Imigran, Remaja Rohingya ini Jadi Perhatian

Wajah Tak Kuyu Layaknya Imigran, Remaja Rohingya ini Jadi Perhatian

- detikNews
Senin, 25 Mei 2015 10:33 WIB
Wajah Tak Kuyu Layaknya Imigran, Remaja Rohingya ini Jadi Perhatian
Muhammadul Hasan (Foto: Agus Setyadi/detikcom)
Langsa - Remaja itu berdiri dikelilingi oleh beberapa anak gadis. Tangannya memegang sebuah telepon genggam. Dengan cekatan, jemarinya menari di atas tombol mengetik nomor tujuan. Secarik kertas yang dipegang di tangan kirinya, kemudian dikembalikan ke seorang temannya.

Sore itu, ia mengenakan kaos oblong dan celana di atas lutut. Sebuah gelang kuning bertuliskan namanya melinggar di pergelangan tangan kanannya. Sekilas, remaja itu tak mirip dengan imigran yang terombang-ambing di lautan selama dua bulan lebih. Saat berada di pengungsian, ia menarik perhatian sejumlah pengunjung terutama gadis remaja.

Dialah Muhammadul Hasan, 17 tahun. Remaja yang kini ditampung di kamp pengungsian Kuala Langsa, Langsa, Aceh, hampir saban hari pakai oleh tim dokter sebagai penerjemah. Maklum, rata-rata 'manusia perahu' hanya menguasai bahasa Burma. Di antara mereka, Hasan lah yang fasih berbahasa Inggris.

"Saya dipakai sebagai penerjemah oleh dokter jika ada pasien Rohingya yang sakit," kata Hasan saat ditemui di kamp pengungsian, Minggu (24/5/2015) sore.

Hasan masih ingat betul suasana di kampungnya di sebuah desa di Myanmar. Pembunuhan, penembakan, dan pembakaran rumah menjadi pemandatangan pilu hampir saban hari. Suatu hari, ia meminta restu ibunya untuk berangkat ke negara lain. Tujuannya, mencari kerja dan melanjutkan sekolah.

Ia bersama ratusan warga etnis Rohingya lainnya kemudian naik ke kapal kecil untuk berangkat ke negara lain. Tak ada negara pasti yang ingin dituju. Setelah berhari-hari berada di lautan, nakhoda boat beserta anak buahnya melarikan diri. Impian mencari kerja dan melanjutkan sekolah seketika sirna.

Kapal kayu yang membawa Hasan dan ratusan orang lainnya terombang-ambing di lautan luas. Pasokan makanan dan minuman di dalam boat mulai menipis. Anak-anak menangis kelaparan. Dalam boat mereka, juga ada orang-orang Bangladesh yang lari dari negaranya untuk mencari kerja.

"Saya lari dari kampung untuk menyelamatkan diri dan mencari uang untuk melanjutkan sekolah," ungkap Hasan.

Hari mulai gelap. Kapal kayu yang membawa mereka bocor. Imigran laki-laki dan beberapa perempuan memilih menceburkan diri ke lautan. Mereka bertahan dalam dinginnya laut dengan modal jeriken sebagai pelampung. Yang tak punya pelampung, tenggelam. Sementara anak-anak dan wanita tetap bertahan di kapal.

Posisi kapal kayu mulai miring. Anak-anak dan wanita menangis histeris. Untung, sebuah boat nelayan pancing melintas. Para nelayan ini kemudian meminta bantuan pada boat yang lebih besar. Setelah menunggu sekitar dua jam, baru mereka dapat diselamatkan.

Satu persatu imigran ditarik ke boat nelayan. Mereka dibawa ke daratan yang berjarak sekitar 40 mil dari bibir pantai. Mereka kini ditampung sementara di dalam dua gedung di Kuala Langsa, Langsa, Aceh. Para pengungsi ini juga diwajibkan memakai gelang sebagai identitas nama dan negara mereka.

Selama berada di pengungsian, remaja yang masih sekolah di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) ini punya kesibukan sendiri. Ia diminta oleh tim dokter sebagai penerjemah. Saat 433 'manusia perahu' diselamatkan di Aceh Timur, Hasan dibawa dari Langsa untuk menanyakan kondisi pengungsi gelombang ketiga tersebut.

Beberapa hari lalu, Hasan dibelikan sebuah handphone oleh seorang dokter. Saat itu, ia mengaku kangen ibunya yang masih berada di Myanmar. "Saya bilang mau nelepon ibu bagaimana caranya. Tiba-tiba, dokter tersebut membelikan saya sebuah handphone," ungkapnya.

Hasan sudah melepas kangen dengan ibunya meski hanya dapat mendengar suaranya saja. Ia mengaku tidak mau pulang ke negaranya, Myanmar.

"Kalau datang tentara di sana kami dipukul," kata Hasan.

Hasan mengaku sengaja meninggalkan kampung halamannya untuk mencari kerja agar dapat melanjutkan sekolah. Ia juga sudah punya mimpi yang ingin diraihnya di kemudian hari. "Saya ingin jadi dokter," ungkap Hasan.

(Triono Wahyu Sudibyo/Triono Wahyu Sudibyo)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini