Sebanyak 1.722 imigran Rohingya dan Bangladesh ini ditampung diempat lokasi di Aceh. Lokasi tersebut adalah Aceh Timur, Langsa, Aceh Tamiang dan Aceh Utara. Selama ditampung di Aceh, mereka lebih banyak berkomunikasi dengan sesamanya. Hanya satu dua orang yang menguasai bahasa Melayu atau bahasa Inggris.
Meskipun tidak dapat berbicara dengan penduduk di Aceh atau relawan, namun ada tiga kata yang sering diucapkan "manusia perahu" ini. Ketiga kata tersebut adalah ucapan salam, memperkenalkan asal negara dan agama.
Jika bertemu warga atau relawan, para imigran ini menyapa dengan kalimat "Assalamualaikum". Setelah itu dilanjutkan dengan perkenalan negara Asal. Warga etnis Rohingya menyebut dirinya Burma dan Bangladesh dengan sebutan Bangla.
Setelah "Assalamualaikum, Bangla atau Burma", mereka kemudian memberitahu bahwa dirinya Muslim. Jadi, jika bertemu warga, mereka hanya menyapa dengan tiga kata itu.
"Assalamualaikum, Bangla atau Burma, Muslim". Setelah itu, mereka minta berjabat tangan dan kemudian pergi. Hampir setiap kali dengan berpapasan dengan imigran, mereka pasti akan menyapa dengan kata-kata tersebut.
Sementara beberapa imigran terlihat menguasai bahasa Inggris dan Melayu. Jika bertemu warga atau relawan, mereka menyapa sambil tersenyum. Ada juga imigran yang mulai menguasai bahasa Indonesia.
"Bahasa Indonesia bisa sedikit-sedikit," kata seorang imigran asal Bangladesh, Saddam Husen, Senin (25/5/2015).
(Khairul Ikhwan/Khairul Ikhwan)











































