Pantauan pagi ini, Senin (25/5/2015), sejumlah anak-anak etnis Rohingya berkumpul di sebuah posko yang dinamakan 'Sekolah Ceria'. Di sana, mereka belajar mengenal abjad, menghitung dan belajar tiga bahasa.
Seorang remaja etnis Rohingya yang sudah pandai bahasa Inggris didapuk menjadi "guru". Beberapa relawan di sana juga membantu mengajari anak-anak imigran ini menulis dan membaca.
Para relawan Sekolah Ceria juga memperlihatkan gambar seperti buah-buahan, hewan dan lainnya. Mereka kemudian mengajari anak-anak imigran dalam tiga bahasa yaitu bahasa Inggris, Indonesia dan Aceh. Dengan penuh antusias, mereka mengikuti apa yang diucapkan sang "guru".
Koordinator Sekolah Ceria, Iskandar Darussalam, mengatakan, pengungsi Rohingya sengaja diajari tiga bahasa agar mudah berkomunikasi saat bertemu dengan orang lain. Selama ini, "manusia perahu" itu hanya menguasai bahasa mereka dan untuk berkomunikasi dengan warga atau relawan menggunakan bahasa isyarat.
"Selama ini mereka terkendala bahasa. Rata-rata mereka hanya mengerti bahasa Burma," kata Iskandar saat ditemui di posko Sekolah Ceria.
Relawan Sekolah Ceria sudah sejak lima hari mengajari mereka bahasa. Menurut Iskandar, jika mereka sudah bisa bahasa Inggris atau Indonesia dan Aceh, imigran ini pasti dapat melakukan berbagai hal.
Selain bahasa, para relawan juga mengajari imgiran budaya dan cara masak ala orang Indonesia. Setiap hari, mereka mencoba belajar masak beberapa menu.
"Kalau mereka sudah tahu budaya dan bisa bahasa, mereka bisa berbaur dengan masyarakat," ungkap Iskandar.
(Indra Subagja/Rachmadin Ismail)











































