Bukti yang tersiasa adalah dua batang pohon raksasa, yakni pohon beringin dan pohon kepuh yang diperkirakan berusia seratus tahun lebih. Kedua pohon tersebut berdiri kokoh persis di dekat sendang atau sumber air yang menjadi lokasi dibangunnya ‘rumah peri’.
“Ketika saya masih kecil, pohon kepuh ini sudah besar seperti itu. Saya perkirakan usia pohon tersebut mencapai seratus tahun lebih,” kata Yusuf pada detikcom, Sabtu (23/5/2015).
Ketika kawasan hutan Desa Begal masih hijau dan banyak pohon besar, mata air yang keluar dari dalam sendang cukup besar dan lancar. Bahkan mata air di sendang tersebut menjadi pemandian umum dan airnya mampu mengairi sawah milik warga.
Namun sekarang, sejak pohon-pohon ditebangi warga, kondisi sendang sungguh sangat memprihatinkan. Mata air sudah malas keluar. Bahkan kondisi sendang saat ini sudah tak terurus sebab banyak endapan lumpur bercampur kotoran sampah.
Sungai-sungai kecil yang dulu mengalir air jernih dari sendang menuju areal persawahan di sekitar hutan, juga sudah banyak yang mengering. Warga berharap dengan rencana penanaman kembali kawasan hutan Desa Begal, hutan yang kini gundul bisa kembali hijau.
(Fatichatun Nadhiroh/Khairul Ikhwan)











































