Seorang anggota Komunitas Dongeng Ceria, Iman Surahman, mengatakan, para komunitas dongeng yang mencoba menghibur para imigran ini memang mempunyai persoalan bahasa. Meski demikian, persoalan tersebut dapat diatasi dengan menggunakan bahasa-bahasa universal.
"Kita memang punya persoalan dengan bahasa. Tapi kita di sini menggunakan bahasa tubuh, bahasa mata dan lainnya. Kalau bahasa dari mulut cuma sebagai pelengkap saja," kata Iman saat ditemui detikcom, Sabtu (23/5/2015).
Saat menghibur pengungsi, para pendongeng ini membawa alat peraga berupa boneka yang diberi nama Utun dan Odi. Utun merupakan boneka monyet yang memerankan tokoh jahat sementara Odi merupakan tokoh anak saleh.
Para pendongeng yang datang dari Jakarta ini, memberikan edukasi kepada pengungsi lewat cerita-cerita yang mereka sampaikan. Mereka mengajari imigran di antaranya tata cara hidup sehat.
Meski hanya menggunakan bahasa tubuh, para pendongeng sukses membuat imigran tertawa terbahak-bahak. Anak-anak pengungsi kembali ceria saat dihibur. Mereka juga menanyakan sesuatu yang tidak mereka mengerti pada petugas.
"Di sini kita mengajak mereka cara hidup sehat seperti mencuci tangan sebelum makan. Karena dengan kondisi mereka seperti ini mereka akan rentan terhadap penyakit," ungkapnya.
Hingga hari ini sebanyak 1.722 imigran ditampung di empat lokasi di Aceh yaitu 560 jiwa di Aceh Utara, 47 jiwa di Aceh Tamiang, 682 jiwa di Kota Langsa, dan 433 jiwa di Aceh Timur. Para pengungsi ini diselamatkan oleh nelayan dari empat kabupaten tersebut pada 10, 15, 16, dan 20 Mei lalu.
(Khairul Ikhwan/Khairul Ikhwan)











































