Kiprah Bramantyo, Seniman Nyentrik di 'Pernikahan' Mbah Kodok dengan Peri

Pria 'Menikahi' Peri

Kiprah Bramantyo, Seniman Nyentrik di 'Pernikahan' Mbah Kodok dengan Peri

Nograhany Widhi K - detikNews
Jumat, 22 Mei 2015 18:16 WIB
Kiprah Bramantyo, Seniman Nyentrik di Pernikahan Mbah Kodok dengan Peri
(Foto: istimewa)
Jakarta - 'Pernikahan' Bagus Kodok Ibnu Sukodok dengan peri Roro Sukowati menggegerkan Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, pada 8 Oktober 2014 lalu. 'Pernikahan' itu adalah seni kejadian (happening art) yang narasinya dibuat seniman Bramantyo Prijosusilo untuk menyadarkan warga tentang menjaga hutan dan mata air. Bagaimana kiprah Bramantyo selama ini?

Nama Bramantyo mencuat pada 2011 lalu. Saat itu Bramantyo sempat menuding penyair Taufiq Ismail melakukan plagiarisme.

"Gara-garanya waktu itu status Facebook, ada buku pelajaran sastra SMP yang memuat saduran puisi seorang penyair Amerika namun ada nama Taufiq Ismail. Lantas jadi heboh, ramai waktu itu. Fadli Zon keponakan Taufiq Ismail ikut nimbrung, dalam seluruh karya Taufiq Ismail dikumpulkan dan tidak ada karya itu," kata Bramantyo saat berbincang dengan detikcom, Jumat (22/5/2015).

Taufiq Ismail, imbuhnya, sempat menuntutnya atas pencemaran nama baik menurut UU ITE. "Saya minta maaflah. Akhirnya Taufiq Ismail jadi tahu bahwa selama ini secara resmi di buku sekolah, saduran itu diatributkan kepada dia, padahal bukan dia yang menerjemahkan. Sajak itu masih belum ada yang mengaku menerjemahkannya," imbuh pria blasteran Australia-Indonesia ini.


(Foto: dok detikcom)

Dalam catatan detikcom, di Facebook Bramantyolah masalah plagiarisme yang dialamatkan kepada Taufiq merebak. Taufiq sempat tidak terima dan merasa telah dinista. Pada 2 April ia mengeluarkan pernyataan akan membawa kasus tuduhan tersebut ke ranah hukum, dengan mengadukan Bramantyo ke polisi.

Namun, ternyata rencana itu berubah. "Pak Taufiq akan rekonsiliasi dengan Bramantyo," demikian Fadli Zon, editor buku seri kumpulan karya Taufiq Ismail, menginformasikan kepada detikcom, Rabu (13/4/2011) silam.

Saat berdamai dengan Taufiq Ismail 2011 lalu, pria berjenggot itu muncul dengan busana nyentrik khas seniman. Kain batik yang diikatkan sebagai blangkon di kepala dan celana pencak silat. Saat itu dia bekerja sebagai seorang petani dengan lahan seluar 7 hektar yang ditanami tumbuhan organik seperti padi, jamu-jamuan dan buah-buahan.

Di luar pekerjaannya sebagai petani, mantan wartawan BBC London itu juga gemar menulis opini dan pemikirannya di media massa atau pun untuk konsumsi pribadi. Bramantyo juga mencintai puisi sejak SMP.

β€œSaya juga banyak menulis opini di media massa, tentang masalah sosial, politik dan budaya,” kata pria kelahiran 9 Agustus 1965 itu saat berbincang seusai acara perdamaiannya dengan Taufiq Ismail di Fadli Zon Library, Benhil, Kamis, Jakarta Kamis (14/4/2011).

Bramantyo menjadi sorotan kembali pada 2012. Bramantyo saat itu hendak menggelar aksi tunggal di depan markas satu ormas Islam di Kotagede Yogyakarta. Belum sempat memulai aksinya, Bramantyo sudah ditarik dan dilawan oleh puluhan anggota laskar ormas. Tarik-menarik dan saling dorong antara polisi dan laskar pun terjadi.

Β 

(Foto: Bagus Kurniawan/detikcom)

Pada 2014, Bram juga tampak di rumah Iwan Fals, saat Jokowi yang masih menjadi capres PDIP berkunjung. Bram saat itu melantunkan lagu Jawa yang bertujuan sebagai pengusir setan.

"Nyanyiannya sebagai tolak bala. Semacam Pangkur Kedong Kuning. Itu pengusir setan yang sudah ada dari zaman Sunan Kalijaga," kata Bram di kediaman Iwan Fals saat itu, Kamis (3/4/2014) .




(Foto: dok detikcom)

Dalam syair bahasa Jawa ini, diandaikan Jokowi sebagai Empu Barada dan Iwan Fals sebagai Airlangga. Dalam cerita tersebut Empu Barada harus bersinergi dengan Airlangga untuk menyelesaikan permasalah di lingkungan sekitar.

Sedangkan pada 8 Oktober 2014, Bram menyelenggarakan 'pernikahan' Mbah Kodok dengan peri Setyowati di rumahnya di Desa Sekaralas, Widodaren, Ngawi yang mendatangkan kerumunan massa hingga radius 7 km.

Terlepas dari dua kejadian yang membetot perhatian publik itu, Bramantyo selepas dari SMA Kolese De Britto tahun 1983, sempat berkuliah di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Tidak lama, kemudian dia bergabung di Bengkel Teater tahun 1983.

"Pernah kuliah di IKJ cuma 2 minggu. Waktu itu masuk Bengkel Teater, kayaknya lebih menarik di Bengkel Teater," imbuh pria kelahiran Ngawi, Jawa Timur ini.

Dia juga pernah berguru seni pada seniman Arahmaiani pada 1987-1989, dengan bergabung kepada kelompok senirupa Sukawaras. Selama tahun 1989-1991, dia bekerja dengan Kelompok Sirkus Barok Sawung Jabo dan sempat menjadi wartawan BBC di London pada 1993-1996.

(Nograhany Widhi K/Nurul Hidayati)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads