"Sangat mungkin yang melakukan itu (pembunuhan) yang mengenal Ace dan atau orang yang dikenal Ace dengan baik," ujar Mardoto ketika berbincang, Jumat (22/5/2015).
Menurut Mardoto, yang mengenal dan dikenal Akseyna dengan baik yakni dari 2 komunitas. Mardoto tidak pernah mengenal rekan Akseyna dari dua komunitas itu karena mereka tidak pernah berkunjung ke rumah Akseyna.
Rekan Akseyna dari satu komunitas pernah datang ke rumah Akseyna di Yogyakarta, dua hari setelah pemakaman Akseyna. Keduanya datang menyerahkan dua flash disk milik Akseyna yang dipinjam teman-temannya. Isi flash disk yakni tugas, film dan jurnal.
Sedangkan rekan dari komunitas lainnya tidak ada yang datang ke rumah Akseyna. Namun komunitas tersebut mengirimkan uang duka lewat rekening.
Jenazah Akseyna ditemukan tenggelam di danau Balairung UI, Kamis (26/3/2015). Terbaru, penganalisis tulisan tangan (grafolog) dari American Handwriting Analysis Foundation, Deborah Dewi, menyatakan, tulisan tangan dalam 'surat wasiat' Akseyna milik 2 orang. Deborah sudah menyampaikan analisanya pada polisi. Atas analisa Deborah, Mardoto meminta polisi mendalaminya.
Kasat Reskrim Polres Depok Kompol Teguh Nugroho belum bersedia mengomentari hasil analisis Deborah Dewi. "Nanti saja hasilnya kita rilis," ujarnya.
(Niken Widya Yunita/Nurul Hidayati)











































