Nama aslinya adalah Prawoto Mangun Baskoro, dan lahir di Solo tahun 1951. Mbah Kodok, demikian dia biasa disapa, ternyata mendapatkan namanya dari tokoh teater terkemuka Tanah Air.
"Nama Kodok itu pemberian Mas Willy (Willybrodus Surio Surendra/WS Rendra), Kodok Ibnu Sukodok. Itu karena aku sejak kecil di Solo tiap malam mencari kodok dengan teman-teman. Dulu aku dipanggil Eko Kodok atau Joko Kodok," jelas Mbah Kodok saat berbincang dengan detikcom, Jumat (22/5/2015).
Saat kecil, Mbah Kodok lebih sering keluar rumah dan tumbuh di jalanan ketimbang di rumah. Dia mengaku masa kecilnya bandel.
"Saya anak jalanan, anak liar, pernah diasingkan oleh kampung saya. Di kampung dulu saya mbeling (bandel) tapi teman saya banyak. Saya tidak punya cita-cita, dulu pengen jadi tentara KKO, tapi nggak tahu akhirnya malah terdampar di kesenian. Mungkin karena keturunan orangtuaku dulu," imbuh Mbah Kodok.
Mbah Kodok mengungkapkan ibunya adalah seorang pesinden dan ayahnya adalah seorang pegawai negeri yang memiliki sanggar kesenian seperti wayang kulit hingga gamelan. Mbah Kodok semula merasakan tidak betah dengan hidup berkesenian kedua orangtuanya ini, akhirnya lebih memilih keluar dari rumah dan hidup di jalan.
"Aku nganggur, jalan sini jalan sana. Belajar macam-macam, belajar membatik dan sebagainya," tutur dia.

(Foto: tangkapan layar Youtube)
Hingga akhirnya, dia bertemu dengan seniman WS Rendra. Sejak pertengahan tahun 1972 lalu, Mbah Kodok bergabung dengan Bengkel Teater di Yogyakarta.
"Jadi ketemu Rendra dulu, saya merasa dipimpin. Namun pada akhirnya keberuntungan. Ada yang menuntun saya ke jalanan, di kampung mbeling, tapi ya itu masa lalu saya. Terus ketemu Rendra, saya menyerahkan diri, dituntun, kesenian begini, begitu, ternyata kok enak," cerita Mbah Kodok.
Lantas setelah bergabung di Bengkel Teater tahun 1972, Rendra memberikan nama Kodok Ibnu Sukodok padanya tahun 1974. Setelah itu, Mbah Kodok melakoni hidup sebagai pementas teater hingga ke Jepang dan Amerika Serikat (AS). Namun meski merasakan enaknya berkesenian, di sisi lain dia merasa hidup berkesenian susah mendapatkan materi.
"Tapi cari duit susah. Dulu menjalin hubungan dengan perempuan banyak, dari Indonesia, Filipina, tapi nggak pernah jadi. Mengapa, seniman kadang-kadang ada, kadang-kadang nggak," tutur Mbah Kodok.
Selain teater, Mbah Kodok juga pernah belajar membatik. Namun, dia akhirnya memutuskan tak lagi membatik karena dinilainya obat untuk mencuci kain batik merusak lingkungan.
"Saya juga sudah berhenti mencari kodok karena itu merusak lingkungan. Lha nanti nggak ada yang melubangi tanah kan," imbuh dia.
Akhir-akhir ini, Mbah Kodok senang bermain gitar akustik dan bernyanyi. Mbah Kodok yang tinggal di Taman Budaya Solo ini suka bernyanyi kala malam.
"Dulu saya pernah belajar keroncong. Suara saya lain, saya lebih suka bernyanyi monolog. Saya belajar gitar sendiri, dinikmati sendiri. Kalau pas malam sepi, saya menyanyi, akhirnya bocor, ada yang ngasih Rp 20 ribu, ya aku ambil. Ternyata ada yang suka. Ya gitar-gitar begitu thok, iseng tiap malam. Ada yang pengen niru tapi susah," imbuhnya.
Gitar dan bernyanyi tiap malam ini, Mbah Kodok akhirnya diajak musisi bergabung dengan kelompok Java Street dengan musik cenderung ke blues.

(Foto: Tangkapan Layar Youtube)
"Saya menyanyi bukan untuk orang lain tapi untuk diri sendiri agar saya tidak merasa sepi dalam hati. Dan akhirnya itu menjadi pilihan, setiap malam saya harus bernyanyi. Dan saya merasa ada sesuatu yang sangat berguna pada akhirnya karena lama kelamaan didengar orang dan akhirnya 1-2 lagu saya dipakai dan dinyanyikan orang lain," tutur Mbah Kodok dalam video dokumenter berjudul "AKTUALISASI PEMIKIRAN KODOK IBNU SUKODOK MELALUI MUSIK" yang diunggah di Youtube.
"Musik bagi saya itu pelipur dalam segalanya, entah suka entah duka, tapi bermain musik itu menghilangkan beban yang ada di jiwa," imbuh pria berambut perak yang gondrong ini.
Dalam video itu, Mbah Kodok sekali lagi menekankan pentingnya menjaga harmonisasi dengan alam.
"Karena ya itu, kita salah kalau kita tidak menghargai alam, binatang, itu salah. Bukan kita nggak boleh membunuh binatang, ya boleh saja, cuma jangan sampai keterlaluan," jelas dia.
(Nograhany Widhi K/Rachmadin Ismail)











































