Kemunculan legenda baru ini diapresiasi oleh sejumlah kalangan seperti Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya dan Wakil Ketua DPR Fadli Zon. Kearifan lokal seperti ini panen apresiasi sepanjang tujuannya tetap lurus yakni untuk menyadarkan masyarakat terkait pentingnya menjaga lingkungan hidup.
Namun untuk happening art membangun rumah peri ini diperlukan anggaran yang tidak sedikit. Para seniman memerlukan bantuan dari pihak yang tergugah dengan aksi 'kampanye' untuk menjaga lingkungan hidup ini.
"Saya sangat senang banyak pihak seperti Ibu Menteri dan Pak Fadli Zon yang mengapresiasi. Kami membuka pintu kepada mereka-mereka yang mau menyumbang untuk honor kesenian rakyat, wayang, dan konsumsi," kata Bram saat berbincang dengan detikcom, Kamis (21/5/2015).
Bramantyo sengaja membuat happening art yang menjadi legenda baru itu. Tujuannya jelas untuk menyadarkan masyarakat pentingnya menjaga hutan dan mata air.
"Iya ini legenda baru yang dibuat untuk menyelamatkan hutan dan mata air," jelas Bram.
Happening art tersebut diawali dengan pernikahan Mbah Kodok dengan peri Setyowati pada Oktober 2014 silam. Mbah Kodok akan membangun rumah untuk sang peri yang kini telah hamil tua. Persiapan membangun rumah peri Setyowati sudah dilakukan sejak sebulan lalu. Pembangunan rumah Setyowati akah digelar dalam pagelaran seni kejadian (art happening) bertajuk "Dhanyang Setyowati Sukodok Membangun Rumah" di Hutan Begal. Pembangunan rumah peri Setyowati itu akan dilakukan pada 6-7 Juni 2015 mendatang. Bram pun mengundang pihak yang tertarik untuk hadir.
"Kami mengundang semua pihak yang peduli dengan lingkungan hidup untuk hadir," katanya.
Mbah Kodok merupakan aktor, seniman, seorang bohemian yang tak punya pekerjaan, penghasilan maupun tempat tinggal tetap. Sehari-hari, Mbah Kodok tinggal di Wisma Seni Taman Budaya Solo, sering ke tempat Bram di Ngawi, sekitar 1 jam perjalanan dari Solo. Meski demikian, imbuh Bram, Mbah Kodok memiliki indera keenam, bisa berkomunikasi dan memiliki hubungan riil dengan makhluk gaib.
Sedangkan sang peri berasal dari legenda yang sudah lama beredar di masyarakat. Legenda yang sudah beredar di masyarakat adalah Setyowati merupakan putri dari Kerajaan Majapahit. Setyowati, menurut legenda adalah putri dari Ratu Majapahit, Ratu Ayu Kencono Wungu atau Tribhuwana Tunggadewi. "Dia (Setyowati) mempelajari ilmu kesempurnaan, tapi lalu menolak menjadi Ratu dan berkelana, akhirnya moksa di Sendhang Ngiyom," kata Bramantyo.
Moksa berasal dari bahasa Sansekerta, yang berarti membebaskan atau melepaskan. Sang putri melepaskan jiwanya di Sendhang Ngiyom. Masyarakat menggambarkan sang peri berusia kira-kira 40 tahun, berparas cantik, rambut panjang, sanggul ke samping, pakai kemben hijau. Bahkan ada masyarakat yang mengaku melihat Sabdo Palon Naya Genggong datang ke kawinan naik gajah bersama anak kecil banyak.
Kisah yang dibuat Bram, rumah peri Setyowati yang 'dinikahi' Mbah Kodok adalah 2 mata air di Alas Begal, Sendhang Margo dan Sendhang Ngiyom serta hutan-hutan di sekitarnya. Legenda baru yang dibuat Bram ini juga dipercaya oleh masyarakat Ngawi. Tujuan Bram membuat legenda ini adalah untuk membuat warga desa sadar untuk menjaga lingkungan. Apalagi, masyarakat yang mengalihfungsikan hutan menjadi sawah.
Bagi Anda yang tertarik saweran untuk happening art tersebut anda bisa langsung mengirimkan ke rekening BRI unit Cepoko Ngawi atas nama Bramantyo Prijosusilo dengan nomor 6441-01-005431-53-7. Atau bisa juga langsung menghubungi lewat akun Facebook SIMBAH KODOK RABI PERI SETYOWATI.
(Elvan Dany Sutrisno/Nurul Hidayati)











































