"Ketemunya nggak sengaja. Saat saya buang air besar di Alas Ketonggo, 6 tahun lalu," jelas Mbah Kodok saat berbincang dengan detikcom, Jumat (22/5/2015).
Saat itu Mbah Kodok buang air besar di sungai yang airnya bening, banyak dan mengalir lancar. Tujuan Mbah Kodok buang air besar bukan semata-mata hanya membuang hajat.
"Bukan sekadar berak, saya mengumpan ikan. Saya kan hobi mancing, ikan mana yang nggak mau," ujarnya terkekeh.
Seniman yang sehari-harinya tinggal di Taman Budaya Solo itu saat itu ditegur karena buang air besarnya mengenai 'mahkhluk halus' di atasnya.
"Dia bilang 'kurang ajar kamu di alas itu'. Dari situ saya ditegur, pada akhirnya untuk tidak buang air besar sembarangan," tutur dia mengambil hikmah dari teguran Roro Setyowati.
Setyowati sendiri sebenarnya tinggal di Alas Begal, Ngawim di pohon beringin dan pohon kepok. Apalagi, di sana ada Sendhang Ngiyom yang airnya banyak dan pemandian sejak zaman Belanda. Namun saat pasca reformasi, banyak pohon di Alas Begal dibabati dan dijadikan sawah.
"Saat hutannya dibabat, Setyowati pindah ke Alas Ketinggo. Tinggal dia dan beberapa penunggu di situ karena hanya di sendang-sendang itu yang punya pohon besar," jelas dia.
Lantas seperti apa penampakan Setyowati, apakah cantik?
"Nggak terlalu, umurnya kira-kira hampir 50, sudah agak tua. Pakai kemben, jarik, pake kebaya sederhana, pakai suweng. Kaya wajah-wajah RA Kartini, wajahnya semacam itu. Mungkin mereka sudah melewati langgam waktu, tetapi begitu penampakannya (seperti berumur) 50 tahunan lebih," tuturnya.
(Nograhany Widhi K/Nurul Hidayati)











































