8 Sopir Angkutan Umum Jadi DPO Kasus Tabrak Lari

8 Sopir Angkutan Umum Jadi DPO Kasus Tabrak Lari

Mei Amelia R - detikNews
Jumat, 22 Mei 2015 11:27 WIB
Jakarta - ‎Transportasi umum yang ada di Jakarta belum bisa memberikan kenyamanan bagi para penumpangnya. Sering kali sopir angkutan umum berperilaku ugal-ugalan menyebabkan kecelakaan hingga mengakibatkan kematian.

Beberapa sopir angkutan umum bahkan tidak bertanggung jawab atas kecelakaan yang ditimbulkan dan melarikan diri. Data Direktorat Lalulintas Polda Metro Jaya mencatat ada 8 kasus kecelakaan di mana para sopirnya melarikan diri sepanjang tahun 2014-2015.

Dari 8 kasus tersebut, terdiri dari 2 unit bus Tran‎sJakarta, 2 unit taksi, 2 unit Kopaja, 1 unit bus dan 1 unit Metro Mini. Saat ini, kedelapan sopir angkutan umum tersebut masih buron.

Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP Hindarsono mengatakan pihaknya sudah menerbitkan DPO atas kedelapan sopir angkutan umum tersebut ke masing-masing Satwil Lantas untuk dilakukan pengejaran. "Masih kita lakukan pengejaran terus. Kalau untuk sopir angkutan umum seperti Metro Mini, Kopaja dan taksi atau bus itu kendalanya PO angkutannya tidak memiliki KTP awaknya," kata Hindarsono pada Kamis 21 Mei 2015.

"Sedangkan kalau untuk sopir Bus TransJakarta itu sudah kita koordinasikan dengan pengelolanya agar menyerahkan sopirnya. Tetapi sampai saat ini ya memang belum ada yang menyerahkan diri," tuturnya.

Dalam kesempatan terpisah, Ketua Presidium Indonesia Traffiic Watch (ITW) Edison Siahaan mengatakan banyaknya transportasi umum yang tidak memberikan kenyamanan dan keamanan itu mencerminkan ‎buruknya kondisi angkutan umum yang ada di Jakarta.

"Transportasi umum merupakan potret modernisasii dan cermin budaya bangsa, serta urat nadi kehidupan untuk menjalankan aktivitas serhari-hari," kata Edison di Jakarta, Jumat (22/5/2015).

Tidak hanya perilaku ugal-ugalan yang berpotensi menimbulkan kecelakaan, kondisi angkutan umum itu sering mengalami kebakaran dan kerusakan, tidak dapat memberikan jaminan keamanan dan kenyamanan bagi penggunanya. "Kondisi angkutan umum kita ini memprihatinkan. Perilaku awaknya ugal-ugalan dan sering menurunkan penumpang sebelum tiba di tujuan membuat transportasi umum kita kian runyam," tuturnya.

Kondisi ini, kata dia, tentunya akan semakin menjauhkan keinginan mamsyarakat untuk beralih ke angkutan umum dari kendaraan pribadinya yang jauh lebih memberikan kenyamanan ketimmbang angkutan umum. Ia pun meminta kepada Pemda DKI untuk segera membenahi transportasi umum yang ada di Jakarta.

"Angkutan umum adalah pelayanan kepada masyarakat yang menjadi kewajiban negara. Jangan dilihat dari segi bisnisnya semata, tetapi pikirkan juga bagaimana agar transportasi umum yang ada bisa memberikan jaminan kenyamanan dan keamanan, sehingga masyarakat pun mau beralih ke transportasi umum," tutupnya.

(Mei Amelia R/Hestiana Dharmastuti)


Berita Terkait