"Kalau saya melihat begini, yang penting tujuan akhirnya mulia untuk melestarikan dan menjaga hutan melalui medium seni atau budaya, ini layak diapresiasi. Dan kadang-kadang mitos atau legenda baru seperti ini diciptakan untuk tujuan yang baik," kata Wakil Ketua DPR Fadli Zon yang selama ini juga memperhatikan budaya yang mengakar di masyarakat, saat berbincang dengan detikcom, Jumat (22/5/2015).
"Misal mitos untuk kekeramatan sebuah candi itu memang diciptakan untuk melindungi. Misalnya jangan mengambil batu dari candi itu karena kalau diambil akan jadi gila, itu sebenarnya untuk melindungi," imbuh Fadli mencontohkan mitos lain yang juga bertujuan baik.
Selain itu, imbuh Fadli, tempat-tempat yang dikeramatkan juga ada tujuan untuk melindungi kelestarian budaya. "Ya saya kira hidup kita kan memang penuh dengan cerita, legenda, mitos, dan cerita itu sebetulnya adalah sebuah komoditi itu yang kita justru kurang bagaimana culture story, cerita budaya, bisa menjadi sebuah komoditi ekonomi kreatif," kata lulusan Fakultas Ilmu Budaya UI ini.
Legenda semacam itu sebenarnya sudah lama hidup di tengah masyarakat. Seperti perjalanan Islam masuk ke Tanah Jawa. "Sebetulnya dulu dipakai dalam banyak persentuhan dialog budaya misalnya ketika Islam masuk ke Tanah Jawa sudah menggunakan wayang, keris, dan suluk dan sebagainya. Jadi medium budaya saya kira cara yang tepat untuk menyampaikan pesan penting ke masyarakat," pungkas kolektor benda pusaka dan buku ini.
Sebelumnya diberitakan happening Art karya seniman Bramantyo Prijosusilo membuat legenda baru tentang pernikahan Mbah Kodok dan peri Setyowati. "Ini legenda baru yang dibuat untuk menyelamatkan hutan dan mata air," jelas Bram saat berbincang dengan detikcom, Kamis (21/5/2015).
Mbah Kodok merupakan aktor, seniman, seorang bohemian yang tak punya pekerjaan, penghasilan maupun tempat tinggal tetap. Sehari-hari Mbah Kodok tinggal di Wisma Seni Taman Budaya Solo, sering ke tempat Bram di Ngawi, sekitar 1 jam perjalanan dari Solo. Meski demikian, imbuh Bram, Mbah Kodok memiliki indera keenam, bisa berkomunikasi dan memiliki hubungan riil dengan makhluk gaib.
Setyowati menurut legenda adalah putri dari Ratu Majapahit, Ratu Ayu Kencono Wungu atau Tribhuwana Tunggadewi. "Dia (Setyowati) mempelajari ilmu kesempurnaan, tapi lalu menolak menjadi ratu dan berkelana, akhirnya moksa di Sendhang Ngiyom," tuturnya.
Kisah yang dibuat Bram, rumah peri Setyowati yang 'dinikahi' Mbah Kodok, adalah 2 mata air di Alas Begal, Sendhang Margo dan Sendhang Ngiyom serta hutan-hutan di sekitarnya. Namun, masyarakat Ngawi mempercayai kisah legenda baru yang dibuat Bram ini.
"Narasi ini menyebar ke masyarakat dan ditambah-tambahi sendiri. Waktu perkawinan, ada juga yang mengaku bisa melihat perempuannya. Anehnya, beberapa orang yang mengaku melihat mendeskripsikan pengantin putrinya sama. Perempuan berusia kira-kira 40 tahun, cantik, rambut panjang, sanggul ke samping, pakai kemben hijau," ungkapnya.
Ada juga yang mengaku melihat Sabdo Palon Naya Genggong datang ke kawinan naik gajah bersama anak kecil banyak. Namun yang penting, tujuan Bram menciptakan legenda ini adalah untuk membuat warga desa sadar untuk menjaga lingkungan. Apalagi masyarakat yang mengalihfungsikan hutan menjadi sawah.
โDengan pendekatan seni dan budaya untuk memperbaiki lingkungan, masyarakat pelaku perusak lingkungan akhirnya sadar dan kemudian berubah dengan sendirinya. Tak perlu ada adu otot atau adu mulut seperti sengketa lahan kebanyakan.
"Mereka semua sejauh ini mendukung sekali, mungkin mereka sadari mereka salah, dan juga mulai sebulan lalu mulai mengerjakan penggalangan dana. Kedua mata air mulai ramai, setiap hari ada orang datang dan melihat, mungkin mereka melihat ada kemungkinan potensi perekonomian yang lain. Mereka yang menyalahgunakan lahan malah bantu menyiapkan tempat. Kita juga tak menyalahkan mereka, tak menuntut apa-apa. Semua berjalan dengan halus," tuturnya.
(Elvan Dany Sutrisno/Nurul Hidayati)











































