“Setyowati telah meminta agar Sendhang Margo dan Sendhang Ngiyom di Alas Begal, yang telah rusak dan semakin rusak sejak reformasi itu, diperbaiki keadaannya," tutur seniman Bramantyo Prijosusilo, penyelenggara 'pernikahan' Mbah Kodok dan Peri Roro Setyowati saat berbincang dengan detikcom, Kamis (21/5/2015).
Sendhang Margo dan Sendhang Ngiyom merupakan mata air sumber air bagi ribuan hektar sawah di Ngawi. Permintaan sang peri pun dipenuhi. Dibantu warga, proses menyiapkan membangun rumah peri dilakukan.
Pada 6 dan 7 Juni upacara akan dilakukan. Lokasi sekitar sendhang pun kini dipasangi kain putih. Alasan Bram membuat kisah legenda Mbah Kodok menikahi Roro Setyowati karena keresahannya melihat lingkungan yang rusak, hutan-hutan di Ngawi, karena penjarahan pasca Reformasi dan alih fungsi hutan menjadi sawah. Medium seni, terutama seni kejadian (happening art) dipilih karena Bram menyukainya.
“Ini legenda baru yang dibuat untuk menyelamatkan hutan dan mata air," jelas seniman Bramantyo Prijosusilo. Berikut foto-foto persiapan membangun rumah yang dikirimkan Bram.
(Indra Subagja/Rachmadin Ismail)











































