Pesan Pernikahan 'Hijau' Mbah Kodok dan Peri Bergema Hingga Mancanegara

Pria 'Menikahi' Peri

Pesan Pernikahan 'Hijau' Mbah Kodok dan Peri Bergema Hingga Mancanegara

Rachmadin Ismail - detikNews
Jumat, 22 Mei 2015 10:45 WIB
Pesan Pernikahan Hijau Mbah Kodok dan Peri Bergema Hingga Mancanegara
Foto: Bramantyo Prijosusilo
Jakarta - Sebuah pentas kesenian karya Bramantyo Prijosusilo tentang pernikahan Bagus Kodok Ibnu Sukodok atau Mbah Kodok (64) dan peri bernama Roro Setyowati disaksikan ribuan orang. Mereka datang dari berbagai daerah, mulai di sekitar Ngawi, Jawa Timur, sampai luar negeri.

Peristiwa tersebut terjadi pada 8 Oktober 2014 lalu di sebuah rumah di Desa Sekaralas, Widodaren, Ngawi. Awalnya berasal dari undangan 'pernikahan' di media sosial. Isi undangan tersebut tentang agenda pernikahan Jawa pada umumnya yakni, siraman sampai temu pengantin.



Rupanya, undangan tersebut beredar luas, bahkan sampai ke luar negeri. Belum lagi kabar dari mulut ke mulut antar warga yang tertarik melihat peristiwa langka tersebut. Dari video yang diposting di YouTube, terlihat ruangan pernikahan penuh sesak, bahkan ada beberapa turis dari luar negeri.

Bram memposting rencana 'pernikahan' itu di Facebook, melempar gagasan hingga akhirnya berhasil menghimpun dana untuk 'prosesi' pernikahan hingga Rp150 juta. Bram juga menyebar 800 undangan ke desa-desa di sekitar tempat tinggalnya di Ngawi, Jawa Timur.

"Kami kira cuma 800 orang yang datang. Ternyata sampai 7 km macet dari rumah saya, lapangan desa jadi lautan manusia. Ternyata undangannya menyebar dari mulut ke mulut, lewat media sosial. Kebetulan daerah saya banyak buruh migran dari Hong Kong, baca Facebook, teleponin keluarganya. Ada yang datang dari Kalimantan, Madura, Lampung, sampai sewa mobil dari Lampung," kisahnya.

Lapangan-lapangan di desa pun menjadi tempat parkir mobil dan sepeda motor yang tarifnya dari Rp 5000 hingga Rp 10.000. Para penjual juga pindah ke rumah Bram karena menjadi pusat keramaian. Prosesi pernikahan Mbah Kodok dengan Peri rupanya benar-benar menggegerkan warga Kabupaten Ngawi.

Di depan kerumuman massa yang banyak itu, seperti yang dikatakan Bram, Mbah Kodok 'menikahi' Peri Setyowati karena ingin menolong sang peri bahwa rumahnya dirusak oleh manusia-manusia tak bertanggung jawab. Syarat ini disebutkan Peri Setyowati menjelang 'kawin' dengan Mbah Kodok.

Tujuan dari pementasan seni ini adalah untuk pelestarian lingkungan. Menurut Bram, kisah legenda Mbah Kodok menikahi Roro Setyowati karena keresahannya melihat lingkungan yang rusak, hutan-hutan di Ngawi, karena penjarahan pasca reformasi dan alih fungsi hutan menjadi sawah. Medium seni, terutama seni kejadian (happening art) dipilih karena Bram menyukainya.

"Saya senang happening art, tahun lalu membuat Peri Setyowati. Narasi yang kita bangun adalah Setyowati menjadi dhanyang atau peri penjaga kedua sendhang. Saya pilih seni kejadian bisa melibatkan banyak pihak, interdisiplin kesenian, antropologi, ekologi, ada kehutanan, ada juga politik. Yang bisa menyatukan banyak disiplin ilmu ya seni kejadian ini, semua orang ikut terutama penduduk desa-desa di hutan yang sekarang menyalahgunakan lahan dalam hutan itu," imbuhnya.



(Rachmadin Ismail/Nograhany Widhi K)


Berita Terkait