"Itu namanya kearifan lokal. Jadi yang namanya legenda-legenda itu kearifan lokal yang sangat erat kaitannya dengan lingkungan dan ini harus dijaga," kata Siti dalam perbincangan dengan detikcom, Jumat (22/5/2015).
Siti mengisahkan legenda lain tentang Dewi Sri yang menjadi pelindung padi. Mitos semacam ini lahir di masyarakat dan kemudian menjadikan masyarakat peduli untuk melindungi lingkungan hidup.
"Jadi kalau cerita-cerita semacam ini berkembang, jadi masyarakat tergugah bahwa perlu menjaga lingkungan," katanya.
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pun akan melakukan identifikasi terhadap legenda yang menggugah kesadaran masyarakat untuk cinta lingkungan hidup. "Jadi kekayaan kita setiap lanscape itu punya ruh, ada ilmunya namanya archelogical landscape itu secara teori lagi dikembangkan," katanya.
Seniman Bramantyo Prijosusilo membuat legenda baru pernikahan Mbah Kodok dan Peri Setyowati di ngawi. "Iya ini legenda baru yang dibuat untuk menyelamatkan hutan dan mata air," jelas seniman Bramantyo Prijosusilo saat berbincang dengan detikcom, Kamis (21/5/2015).
Mbah Kodok, merupakan aktor, seniman, seorang bohemian yang tak punya pekerjaan, penghasilan maupun tempat tinggal tetap. Sehari-hari, Mbah Kodok tinggal di Wisma Seni Taman Budaya Solo, sering ke tempat Bram, di Ngawi, sekitar 1 jam perjalanan dari Solo. Meski demikian, imbuh Bram, Mbah Kodok memiliki indera keenam, bisa berkomunikasi dan memiliki hubungan riil dengan makhluk gaib.
Legenda Setyowati yang sudah beredar di masyarakat adalah, putri dari Kerajaan Majapahit. Setyowati, menurut legenda adalah putri dari Ratu Majapahit, Ratu Ayu Kencono Wungu atau Tribhuwana Tunggadewi. "Dia (Setyowati) mempelajari ilmu kesempurnaan, tapi lalu menolak menjadi Ratu dan berkelana, akhirnya moksa di Sendhang Ngiyom," tuturnya.
Kisah yang dibuat Bram, rumah Peri Setyowati yang 'dinikahi' Mbah Kodok adalah 2 mata air di Alas Begal, Sendhang Margo dan Sendhang Ngiyom serta hutan-hutan di sekitarnya. Namun, masyarakat Ngawi mempercayai kisah legenda baru yang dibuat Bram ini.
"Narasi ini menyebar ke masyarakat dan ditambah-tambahi sendiri. Waktu perkawinan, ada juga yang mengaku bisa melihat perempuannya. Anehnya, beberapa orang yang mengaku melihat mendeskripsikan penganten putrinya sama. Perempuan berusia kira-kira 40 tahun, cantik, rambut panjang, sanggul ke samping, pakai kemben hijau," ungkapnya.
Ada juga yang mengaku melihat Sabdo Palon Naya Genggong datang ke kawinan naik gajah bersama anak kecil banyak. Namun yang penting, tujuan Bram membuat legenda ini adalah untuk membuat warga desa sadar untuk menjaga lingkungan. Apalagi, masyarakat yang mengalihfungsikan hutan menjadi sawah.
โDengan pendekatan seni dan budaya untuk memperbaiki lingkungan, masyarakat pelaku perusak lingkungan akhirnya sadar dan kemudian berubah dengan sendirinya. Tak perlu ada adu otot atau adu mulut seperti sengketa lahan kebanyakan.
"Mereka semua sejauh ini mendukung sekali, mungkin mereka sadari mereka salah, dan juga mulai sebulan lalu mulai mengerjakan penggalangan dana. Kedua mata air mulai ramai, setiap harui ada orang datang dan melihat, mungkin mereka melihat ada kemungkinan potensi perekonomian yang lain. Mereka yang menyalahgunakan lahan malah bantu menyiapkan tempat. Kita juga tak menyalahkan mereka, tak menuntut apa-apa. Semua berjalan dengan halus," tuturnya.
(Elvan Dany Sutrisno/Triono Wahyu Sudibyo)











































