Kisah Mbah Kodok dan Peri Setyowati untuk Selamatkan Hutan dan Mata Air

Pria 'Menikahi' Peri

Kisah Mbah Kodok dan Peri Setyowati untuk Selamatkan Hutan dan Mata Air

Nograhany Widhi K - detikNews
Jumat, 22 Mei 2015 09:45 WIB
Kisah Mbah Kodok dan Peri Setyowati untuk Selamatkan Hutan dan Mata Air
Warga kerja sama membersihkan mata air (Foto: Bramantyo Prijosusilo)
Jakarta - Apakah Bagus Kodok Ibnu Sukodok benar-benar menikahi Peri Roro Setyowati di Ngawi? Mengapa seniman Bramantyo Prijosusilo membuat pernikahan dan cerita legenda ini?

"Iya ini legenda baru yang dibuat untuk menyelamatkan hutan dan mata air," jelas seniman Bramantyo Prijosusilo saat berbincang dengan detikcom, Kamis (21/5/2015).

Mbah Kodok, merupakan aktor, seniman, seorang bohemian yang tak punya pekerjaan, penghasilan maupun tempat tinggal tetap. Sehari-hari, Mbah Kodok tinggal di Wisma Seni Taman Budaya Solo, sering ke tempat Bram, di Ngawi, sekitar 1 jam perjalanan dari Solo. Meski demikian, imbuh Bram, Mbah Kodok memiliki indera keenam, bisa berkomunikasi dan memiliki hubungan riil dengan makhluk gaib.

Alasan Bram membuat kisah legenda Mbah Kodok menikahi Roro Setyowati karena keresahannya melihat lingkungan yang rusak, hutan-hutan di Ngawi, karena penjarahan pasca Reformasi dan alih fungsi hutan menjadi sawah. Medium seni, terutama seni kejadian (happening art) dipilih karena Bram menyukainya.

"Saya senang happening art, tahun lalu membuat Peri Setyowati. Narasi yang kita bangun adalah Setyowati menjadi dhanyang atau peri penjaga kedua sendhang. Saya pilih seni kejadian bisa melibatkan banyak pihak, interdisiplin kesenian, antropologi, ekologi, ada kehutanan, ada juga politik. Yang bisa menyatukan banyak disiplin ilmu ya seni kejadian ini, semua orang ikut terutama penduduk desa-desa di hutan yang sekarang menyalahgunakan lahan dalam hutan itu," imbuhnya.

Kisah Mbah Kodok dan Peri Setyowati dibuat Bram karena bisa dikaitkan dengan narasi yang sudah ada dalam tradisi seperti cerita legenda Ratu Kidul atau Sabdo Palon Naya Genggong.

"Uniknya, ternyata di masyarakat ada juga cerita Setyowati ini, yang bisa nyambung sama yang kita karang. Cerita Setyowati yang beredar di masyarakat ini yang kita tak tahu sebelumnya," imbuhnya.

Legenda Setyowati yang sudah beredar di masyarakat adalah, putri dari Kerajaan Majapahit. Setyowati, menurut legenda adalah putri dari Ratu Majapahit, Ratu Ayu Kencono Wungu atau Tribhuwana Tunggadewi.

"Dia (Setyowati) mempelajari ilmu kesempurnaan, tapi lalu menolak menjadi Ratu dan berkelana, akhirnya moksa di Sendhang Ngiyom," tuturnya.

Kisah yang dibuat Bram, rumah Peri Setyowati yang 'dinikahi' Mbah Kodok adalah 2 mata air di Alas Begal, Sendhang Margo dan Sendhang Ngiyom serta hutan-hutan di sekitarnya. Namun, masyarakat Ngawi mempercayai kisah legenda baru yang dibuat Bram ini.

"Narasi ini menyebar ke masyarakat dan ditambah-tambahi sendiri. Waktu perkawinan, ada juga yang mengaku bisa melihat perempuannya. Anehnya, beberapa orang yang mengaku melihat mendeskripsikan penganten putrinya sama. Perempuan berusia kira-kira 40 tahun, cantik, rambut panjang, sanggul ke samping, pakai kemben hijau," ungkapnya.

Ada juga yang mengaku melihat Sabdo Palon Naya Genggong datang ke kawinan naik gajah bersama anak kecil banyak. Namun yang penting, tujuan Bram membuat legenda ini adalah untuk membuat warga desa sadar untuk menjaga lingkungan. Apalagi, masyarakat yang mengalihfungsikan hutan menjadi sawah.

โ€‹Dengan pendekatan seni dan budaya untuk memperbaiki lingkungan, masyarakat pelaku perusak lingkungan akhirnya sadar dan kemudian berubah dengan sendirinya. Tak perlu ada adu otot atau adu mulut seperti sengketa lahan kebanyakan.

"Mereka semua sejauh ini mendukung sekali, mungkin mereka sadari mereka salah, dan juga mulai sebulan lalu mulai mengerjakan penggalangan dana. Kedua mata air mulai ramai, setiap harui ada orang datang dan melihat, mungkin mereka melihat ada kemungkinan potensi perekonomian yang lain. Mereka yang menyalahgunakan lahan malah bantu menyiapkan tempat. Kita juga tak menyalahkan mereka, tak menuntut apa-apa. Semua berjalan dengan halus," tuturnya.
ย 

(Nograhany Widhi K/Indah Mutiara Kami)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads