Polyvinyl Chloride, Senyawa di Beras Plastik Untuk Bahan Pipa dan Terpal

ADVERTISEMENT

Polyvinyl Chloride, Senyawa di Beras Plastik Untuk Bahan Pipa dan Terpal

Elza Astari Retaduari - detikNews
Jumat, 22 Mei 2015 09:07 WIB
Jakarta - Laboratorium Sucofindo sudah memeriksa beras yang dilaporkan oleh seorang pedagang nasi uduk di Bantar Gebang, Bekasi. Dari hasil pemeriksaan, sampel dipastikan bahwa beras tersebut positif berbahan baku plastik dengan kandungan senyawa Polyvinyl Chloride.

Sucofindo yang merupakan BUMN di bidang bidang pemeriksaan, pengawasan, pengujian, dan pengkajian memeriksa sampel beras dengan media alat screening spectrum infrared.

"Apakah benar sampel beras itu diduga mengandung bahan plastik polimer? Dan setelah kita teliti menggunakan alat spectrum diketahui kalau sampel beras itu mengandung senyawa polyvinyl chloride, yang biasa ditemukan di kabel, pipa PVC, atau produk industri yang menggunakan bahan plastik," ungkap Kepala Bagian Pengujian Laboratorium Sucofindo, Adisam ZN di Kantor Walikota Bekasi, Jl Ahmad Yani, Kamis (21/5).

Berdasarkan informasi yang dihimpun detikcom, Polyvinyl Chloride atau yang disingkat PVC ini memiliki 2 bentuk dasar. Pertama kaku dan fleksibel. Bentuk PVC kaku biasa digunakan dalam konstruksi untuk pipa dan dalam aplikasi bentuk seperti pintu dan jendela. PVC juga bisa digunakan dalam pembuatan botol, kemasan non-makanan lainnya, dan merupakan bahan baku kartu, seperti kartu ATM dan kartu keanggotaan.

PVC murni (vinil klorida) berwarna putih dan berbentuk rapuh padat. Senyawa ini tidak larut dalam alkohol tetapi sedikit larut dalam tetrahidrofuran. Nama kimia PVC adalah (C2H3Cl)n dan dapat dibuat lebih lembut serta fleksibel dengan penambahan plastizer yang paling banyak digunakan menjadi Phthalate.

Phthalate sendiri merupakan sekelompok zat yang banyak digunakan dalam produk sehari-hari. Bentuknya kental seperti minyak goreng, tidak berwarna, sedikit atau tanpa bau serta tidak mudah menguap. Dalam bentuk ini, PVC juga digunakan dalam pipa, isolasi kabel listrik, kulit imitasi, produk karet, dan banyak aplikasi untuk menggantikan karet. Umumnya dari hasil kulit imitasi ini, PVC digunakan untuk membuat pakaian berjenis gothic, punk, dan pakaian alternatif lainnya.

Harga PVC lebih murah dibandingkan karet, kulit, maupun lateks sehingga digunakan sebagai bahan untuk mensimulasikannya. Kain PVC tahan air sehingga banyak digunakan sebagai bahan baku mantel, peralatan ski, sepatu, jaket dan tas.

PVC plastizer juga digunakan untuk menghasilkan lembaran tipis, berwarna, atau sebagai film perekat yang disebut sebagai vinil. Film-film tersebut bisa dipotong dan dicetak dalam printer format lebar dan menghasilkan berbagai macam produk sign (tanda) komersil dan tanda-tanda pada kendaraan, misalnya garis-garis bodi mobil.

Sementara itu aplikasi penggunaan senyawa tunggal PVC yang disetujui medis adalah sebagai bahan baku wadah fleskibel atau tubing, misalnya wadah yang digunakan untuk darah atau komponennya, untuk tempat urine, dan perlengkapan kesehatan lainnya. Di luar dari itu, PVC juga digunakan dalam aplikasi industri yang lebih kecil seperti kaset, pelapis tembok, rumah kaca, busa, mainan anak, terpal, dan bahan interior lainnya. Harga PVC yang lebih murah daripada logam pun menjadikannya cukup banyak digunakan dalam pembuatan alat musik untuk instrumen yang jarang seperti seruling kontrabas.

Mengkonsumsi senyawa PVC dan campurannya cukup berbahaya bagi tubuh. Dampak yang disebabkan bisa mulai dari sakit perut hingga menyebabkan penyakit kanker.

"Risiko langsung konsumsi terus takaran tak terbatas, akan sebabkan sakit perut, mual, karena tidak bisa langsung dicerna. Proses jangka lama dari riset menimbulkan dampak kanker," kata Adisam.

Bahkan bahan senyawa plastik ini di Eropa, kata Adisam, dilarang digunakan sebagai bahan baku mainan karena cukup berbahaya jika sampai tertelan anak-anak. "Jadi tentu tidak boleh digunakan di dalam bahan pangan," tegas Adisam.

"Jangka lama bisa menyebabkan kanker. Dan sudah pernah diujicobakan ke tikus, ada perubahan komponen organ tikus tersebut," ujarnya mengimbuhi.

Cara sederhana membedakan beras bulir asli dan beras bulir plastik bisa dengan cara mengambil dulu sebagian beras dan coba untuk dimasak. Seperti yang sudah dilakukan warga Bekasi, Ibu DW yang pertama kali melaporkan beras plastik ini.

"Seperti pengakuan pelapor kemarin mengatakan kalau saat dimasak ada yang menggumpal dan tidak semua jadi bubur," pungkas Adisam.



(Elza Astari Retaduari/Indah Mutiara Kami)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT