"Memang menjelang kawin dengan Kodok di alam manusia, Setyowati telah meminta agar Sendhang Margo dan Sendhang Ngiyom di Alas Begal, yang telah rusak dan semakin rusak sejak reformasi itu, diperbaiki keadaannya," tutur seniman Bramantyo Prijosusilo, penyelenggara 'pernikahan' Mbah Kodok dan Peri Roro Setyowati saat berbincang dengan detikcom, Kamis (21/5/2015).
Mbah Kodok sendiri pasca 'menikah' dengan Peri Roro Setyowati dianggap warga seperti dukun. Menurut Bram, Mbah Kodok sering dimintai nomor togel, mengobati orang hingga penglaris.
"Namun Mbah Kodok bilang 'Nggak boleh begitu, karena itu musyrik'. Justru istrinya meminta tolong manusia memperbaiki hutan yang rusak," jelas Bram.
Sehari-hari setelah prosesi 'pernikahan' dengan Peri Roro Setyowati, Mbah Kodok berperilaku seperti layaknya seorang suami yang memiliki istri. Seperti ingat waktu untuk pulang ke rumah, juga mengabarkan bahwa istrinya telah hamil.
"Mbah Kodok biasanya kalau kumpul begadang sampai pagi. Tapi ini sebelum pukul 00.00 WIB, Mbah Kodok bilang 'Aku ditimbali bojoku, tak turu sik' (Aku dipanggil istriku, tidur dulu ya). Istrinya hamil, dia menyiapkan nama. Kaya orang kawin beneran sih, istrinya nggak ada yang lihat padahal," tutur pria berewok ini.
"Dia milih kawin dengan peri kan karena nggak perlu ngasih uang belanja, tapi malah merepotkan orang se-kabupaten," katanya sambil terkekeh.
Peri Setyowati ini disampaikan Mbah Kodok sedang hamil tua dengan kandungan yang berisi bayi kembar dampit (bayi lelaki dan perempuan dalam satu rahim) sehingga Peri Setyowati minta untuk dibuatkan rumah. Rumah Peri Setyowati itu, yang adalah Sendhang Margo dan Sendhang Ngiyom, adalah 2 mata air yang seharusnya mengairi 1.431 hektar sawah di bawahnya. Dua mata air yang terletak di Ngawi kini kondisi debit airnya mengering.
Hutan-hutan yang ada dekat dua mata air itu, menurut Bram, mengalami penjarahan tahun 1998-1999. Sebagian lahan hutan dialihfungsikan menjadi sawah.
"Seharusnya dalam hutan tak boleh ada sawah. Biasanya menanam kacang atau tanaman kering lainnya. Kalau dibuat sawah, pohon-pohon hutannya ya mati. Akibatnya, kedua mata air debitnya menurun tajam padahal mengairi 1.431 hektar di 8 desa dari 2 kecamatan," jelas Bram.
Di dekat dua mata air itu, imbuh dia, juga ada kolam renang zaman Belanda yang kini kondisinya sudah hancur.
Oleh karena itu sejak sebulan lalu lebih, Mbah Kodok dibantu Bramantyo bersama Godeliva D Sari, Zen Zulkarnaen, Mamang Budi Santoso dan Anang Budiawan dari Komunitas Ngawi Hijau, sibuk menggalang dukungan dari masyarakat dan elit Ngawi untuk membangun rumah Peri Setyowati. Pembangunan rumah Setyowati akah digelar dalam pagelaran seni kejadian (art happening) bertajuk 'Dhanyang Setyowati Sukodok Membangun Rumah' di Hutan Begal. Pembangunan rumah Peri Setyowati itu akan dilakukan pada 6-7 Juni 2015 mendatang.
Bagaimana proses pembangunan rumah Peri Setyowati itu? Nantikan kisah berikutnya.
(Nograhany Widhi K/Indah Mutiara Kami)











































