detikNews
Jumat 22 Mei 2015, 08:29 WIB

Kisah Mbah Kodok, Pria yang 'Menikahi' Peri Setyowati di Ngawi

Nograhany Widhi K - detikNews
Kisah Mbah Kodok, Pria yang Menikahi Peri Setyowati di Ngawi Foto: Bramantyo Prijosusilo
Jakarta -

Rumah di Desa Sekaralas, Widodaren, Ngawi pada 8 Oktober 2014 lalu penuh sesak dijejali warga Ngawi, Jawa Timur, dan sekitarnya. Di tengah-tengahnya, ada Bagus Kodok Ibnu Sukodok (64) yang duduk di pelaminan yang di sebelahnya kosong. Kodok 'menikahi' peri bernama Roro Setyowati.

Mbah Kodok, begitu Bagus Kodok dikenal, memakai blangkon Jawa menutupi rambut perak yang tergerai hingga lehernya, di kedua telinganya terselip bunga berwarna putih, dadanya yang terbuka ditutup roncean melati, dan bawahnya memakai kain serta sandal selop hitam. Kedua pergelangan tangannya memakai gelang berwarna emas. Penampilannya lazimnya pengantin laki-laki adat Jawa.

Di sebelahnya, tidak tampak siapa-siapa. Hanya ada sanggul perempuan Jawa yang berhiaskan ronce melati ditelungkupkan di atas kebaya dan kain di atas kursi. Di bawah kursi, ada sepasang selop perempuan berwarna hitam.

Di sebelah kursi utama pelaminan itu tampak dua anak kecil duduk, dengan rambut disangul cepol ke atas, memakai make up dan kemben berwarna hijau muda, memakai kalung etnik, bertelanjang kaki dan membawa kipas. Dalam adat Jawa, anak-anak yang membawa kipas dan bertugas mengipasi manten itu lazim disebut "patah".

Sebelum didudukkan di pelaminan, Mbah Kodok juga sudah menjalani prosesi penganten adat Jawa seperti "Midodareni", "Siraman" dan 'dinikahkan' dengan dukun manten di rumah itu pula. Dalam prosesi siraman, tampak seniman Mugiyono Kasido dan Arahmaiani yang sudah mendunia turut meramaikan prosesi dengan tari-tarian.

Lazimnya pesta pernikahan Jawa, ada hiburan kesenian seperti tari bedhoyo dan tarian tradisional lain yang tampil. Di sekitarnya tampak warga sekitar para undangan menyaksikan pesta 'pernikahan' itu.

Sang empunya hajat, yang rumahnya ketempatan sebagai acara 'pernikahan' Mbah Kodok dan peri Roro Setyowati, seniman Bramantyo Prijosusilo memakai beskap merah dan blangkon berbicara pada audiens.

"Dalam hubungan dengan Peri Setyowati itu diceritakan bahwa Setyowati sebenarnya tidak berasal dari Alas Ketonggo, tapi sedang berada di Alas Ketonggo karena sedang mencari bantuan. Dia mencari bantuan karena rumahnya telah dirusak oleh manusia-manusia yang tidak bertanggung jawab. Tetapi orang-orang yang bertanggung jawab setelah terjadinya kerusakan itu tidak membenahi kerusakan yang terjadi bahkan membiarkan saja kerusakan itu," tutur Bramantyo dalam Youtube yang menayangkan 'pernikahan' itu.

Seniman yang juta mantan Ketua Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) PBNU, Zastrouw Al Ngatawi juga memberikan sambutan dalam resepsi 'pernikahan' itu.

"Bisa didengar bisa diraba, sesuatu yang tidak bisa kita lihatpun bisa kita yakini itu ada," tuturnya.

Seniman Bramantyo mengatakan seluruh proses pernikahan Mbah Kodok mengikuti prosesi adat Jawa.

"Prosesi kawinan Jawa biasa, cuma bedanya penganten putri nggak kelihatan," tutur Bram saat berbincang dengan detikcom, Kamis (21/5/2015).

Bram mengatakan temannya Mbah Kodok itu sebenarnya sudah berniat 'menikah' dengan peri 6 tahun sebelumnya. Hingga mendekati Oktober 2014, Bram menyetujui 'menikahkan' Mbah Kodok dengan Peri Setyowati pada Oktober 2014 dalam bentuk happening art atau seni kejadian. Mbah Kodok pun setuju.

Bram memposting rencana 'pernikahan' itu di Facebook, melempar gagasan hingga akhirnya berhasil menghimpun dana untuk 'prosesi' pernikahan hingga Rp150 juta. Bram juga menyebar 800 undangan ke desa-desa di sekitar tempat tinggalnya di Ngawi, Jawa Timur.

"Kami kira cuma 800 orang yang datang. Ternyata sampai 7 km macet dari rumah saya, lapangan desa jadi lautan manusia. Ternyata undangannya menyebar dari mulut ke mulut, lewat media sosial. Kebetulan daerah saya banyak buruh migran dari Hong Kong, baca Facebook, teleponin keluarganya. Ada yang datang dari Kalimantan, Madura, Lampung, sampai sewa mobil dari Lampung," kisahnya.

Lapangan-lapangan di desa pun menjadi tempat parkir mobil dan sepeda motor yang tarifnya dari Rp5000 hingga Rp10.000. Para penjual juga pindah ke rumah Bram karena menjadi pusat keramaian. Prosesi pernikahan Mbah Kodok dengan Peri rupanya benar-benar menggegerkan warga Kabupaten Ngawi.

Di depan kerumuman massa yang banyak itu, seperti yang dikatakan Bram, Mbah Kodok 'menikahi' Peri Setyowati karena ingin menolong sang peri bahwa rumahnya dirusak oleh manusia-manusia tak bertanggung jawab. Syarat ini disebutkan Peri Setyowati menjelang 'kawin' dengan Mbah Kodok.

Nah, rumah apa yang dimaksud Peri Setyowati? Bagaimana pula perilaku Mbah Kodok setelah 'menikah'? Nantikan artikel selanjutnya.



  • Kisah Mbah Kodok, Pria yang Menikahi Peri Setyowati di Ngawi
    Foto: Bramantyo Prijosusilo
  • Kisah Mbah Kodok, Pria yang Menikahi Peri Setyowati di Ngawi
    Prosesi siraman (Foto: Bramantyo Prijosusilo)

(Nograhany Widhi K/Indah Mutiara Kami)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com