Di Washington DC, Amerika Serikat, kompetisi memasak antar-koki kedutaan besar digelar secara rutin oleh Cultural Tourism DC, sebuah lembaga non-profit yang bergerak di bidang wisata budaya. Diwakili oleh chef Galih Kuntobaskoro, Indonesia turut meramaikan ajang yang menarik minat banyak pengunjung tersebut pada hari Rabu (20/5/2015), bertempat di Ronald Reagan Building, Washington DC.
Sebanyak 12 negara bertarung memperebutkan posisi nomor satu: Denmark, El Salvador, Georgia, Ghana, Guatemala, Hungaria, Norwegia, Qatar, Afrika Selatan, Srilanka, Venezuela, dan Indonesia. Mereka tidak saja berlomba menunjukkan siapa chef paling piawai, tetapi juga makanan negara mana yang layak dinobatkan sebagai masakan terbaik dan terfavorit.
Chef Galih menyajikan masakan andalan Indonesia, yaitu rendang yang pada 2011 lalu menempati posisi pertama dalam “50 Masakan Terbaik Dunia” versi pembaca CNN. Mendampingi rendang adalah nasi hijau, pakri nanas, dan wortel asinan betawi.
"Saya memilih rendang karena beberapa alasan. Pertama, rendang sudah banyak dikenal oleh orang dan masuk dalam salah satu masakan terbaik versi CNN. Kedua, rendang itu unik karena proses memasaknya yang lama dengan tingkat kesulitan yang tinggi. Memasak rendang harus sabar dan telaten. Dengan menyajikan rendang saya ingin menonjolkan keunikan masakan Indonesia," kata Chef Galih.
Sepuluh juri menjadi penilai untuk menentukan siapa pemenangnya. Mereka berasal dari berbagai latar belakang: chef, pengusaha restoran, penulis buku, jurnalis, blogger, konsultan masakan. Tiga hal menjadi komponen penilaian, yaitu penyajian, kreativitas, dan rasa. Para juri mendatangi satu per satu booth masing-masing negara. Mereka mengamati, mencicipi, mengomentari.
Dari booth Indonesia, aroma rendang menguar hingga ke sudut-sudut ruangan, menarik minat tidak saja para juri tetapi juga pengunjung yang rela antre untuk mencicipi. Mereka juga bertanya ini itu mengenai bagaimana cara memasaknya dan bahan-bahan apa yang diperlukan. Dengan antusiasme seorang chef, Galih menjawab berbagai pertanyaan tersebut secara piawai.
Sayangnya, meski respons dari dewan juri maupun pengunjung sangat positif, posisi nomor satu disabet oleh Venezuela. Meski begitu, Chef Galih boleh berbangga karena Indonesia hampir saja menang.
“Selisih skornya amat tipis. Kami kesulitan memilih antara Venezuela dan Indonesia,” aku salah satu juri.
“Bagi saya kamulah pemenangnya,” kata juri yang lain kepada Chef Galih.
Namun baginya, kalah menang bukan soal. Ada hal lain yang lebih penting dari sekedar hasil perlombaan.
“Menang atau kalah itu nomor dua. Ada hal lain yang lebih penting, yaitu kesempatan untuk memperkenalkan masakan Indonesia kepada publik Amerika secara luas. Bagi saya, kebahagiaan seorang chef adalah saat orang makan masakan saya dan dia merasa bahagia. Itu adalah perasaan yang luar biasa,” tuturnya.
Chef Galih benar. Terlepas dari kalah atau menang, ajang semacam itu menjadi sarana amat bagus untuk memperomosikan kuliner Indonesia. Pengunjung yang berjumlah sekitar 500 orang adalah mereka yang memiliki passion di bidang kuliner: pemilik restoran, penulis, chef, dan sebagainya. Mereka harus membayar $250 untuk menghadiri acara tersebut. Dengan audiens yang segmented semacam itu, promosi kuliner Indonesia lebih tepat sasaran.
“Kita ingin mempromosikan kuliner Indonesia kepada publik Amerika. Ada banyak cara memperkenalkan Indonesia kepada mereka, dan salah satu yang paling efektif adalah melalui masakan,” tutur Mukti Setianto, staf Fungsi Penerangan, Sosial dan Budaya di KBRI Washington DC.
(Indah Mutiara Kami/Indah Mutiara Kami)











































