Mengenang Sekaligus Belajar Menghadapi Bencana di Museum Tsunami Aceh

Mengenang Sekaligus Belajar Menghadapi Bencana di Museum Tsunami Aceh

Fajar Pratama - detikNews
Jumat, 22 Mei 2015 03:52 WIB
Mengenang Sekaligus Belajar Menghadapi Bencana di Museum Tsunami Aceh
Banda Aceh - Sedikitnya 127 ribu warga Banda Aceh menjadi korban jiwa dari bencana tsunami yang menyapu ibukota Serambi Mekkah pada 2004 itu. Dibangunlan sebuah museum sebagai sarana belajar sekaligus untuk mengenang tragedi tersebut.

Dibangun pada 2009, museum yang terletak di Jalan Iskandar Muda, Banda Aceh itu menggunakan desain karya Ridwan Kamil. Sang arsitek yang kini menjadi Wali Kota Bandung itu memenangi sayembara pembuatan desain gedung tersebut.

Bentuk gedung museum seluas 2.500 meter persegi itu cukup unik, menyerupai kapal, dan memiliki semacam cerobong yang menjulang tinggi. Dari atas, atapnya membentuk gelombang laut. Lantai dasarnya dirancang mirip rumah panggung tradisional Aceh yang selamat dari terjangan tsunami.

Sebelum memasuki pintu museum, pengunjung sudah disapa bangkai helikopter yang rusak parah. Bangkai helikopter itu dipajang di halaman depan, di samping jalan masuk menuju lobi pendaftaran.

"Helikopter ini dulunya di parkir di lapangan Polda pada saat tsunami terjadi," ujar Hilal, salah seorang petugas museum kepada detikcom yang mengikuti All New NP 300 Navara Ekspedisi Tanah Rencong, Kamis (21/5/2015).

Setelah melangkah masuk ke dalam pintu lapis pertama museum ini, pengunjung akan disuguhi sensasi melewati lorong gelap dan sempit. Di kiri dan kanan dinding lorong itu mengalir air yang sesekali percikannya mengenai para pengunjung yang sedang melintas.

Di ujung lorong itu terdapat ruang Memorial Room. Di sini terdapat 26 monitor -- sesuai dengan tanggal kejadian tsunami pada Desember 2004 --, yang menampilkan gambar-gambar kejadian pada saat tragedi itu berlangsung.

Setelah dari ruang pengenangan itu, jalur perjalanan yang sudah ditetapkan pengelola museum membawa pengunjung ke Sumur Doa. Chamber of Blessing ini ternyata merupakan isi dari cerobong menjulang yang terlihat dari luar museum. Di Sumur Doa yang gelap ini, sebagian dari nama-nama korban, yakni sekitar 10 ribu, ditempel menggunakan huruf timbul warga terang. Bentuk sumur itu seperti limas memanjang, semakin ke atas semakin kecil diameternya.

"Tinggi Sumur Doa ini 32 meter, disesuaikan dengan tinggi tertinggi gelombang pada saat itu," ujar petugas museum yang menjadi pemandu kami.

Pada bagian atap sumur ini terdapat tulisan Allah dengan bahasa Arab. "Artinya nama-nama ini ke atas, menghadap tuhan yang di atas," ujar si pemandu.

Setelah Sumur Doa, pengunjung akan melintasi Jembatan Perdamaian, di mana di atas jembatan itu terdapat 53 bendera negara plus kata 'Damai' sesuai dengan ejaan bahasa mereka masing-masing. 53 negara itu tak lain adalah negara yang aktif membantu masyarakat Aceh pasca Tsunami.

Di bawah jembatan itu terdapat kolam, yang airnya sebenarnya cuma setinggi betis. Jembatan itu menanjak, membawa pengunjung ke ruang audio visual. Ruang ini seperti bioskop mini, di dalamnya pengunjung duduk dan menyaksikan dokumentasi pada saat gelombang air yang membawa lumpur, menyapu Banda Aceh.

Selanjutnya, masih banyak ruang-ruang lain yang menunjukkan dokumentasi serta pengetahuan dasar mengenai bagaimana gelombang tsunami bisa terjadi. Ada juga ruang yang khusus menyajikan informasi mengenai bagaimana seharusnya mempersiapkan diri dan bereaksi ketika ada gelombang besar datang.

(Fajar Pratama/Indah Mutiara Kami)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads