Ribuan Warga Tionghoa Rayakan Chue Kau di Bagansiapiapi
Kamis, 17 Feb 2005 03:25 WIB
Riau - Ribuan warga Tionghoa di Kota Bagansiapiapi ibukota Kabupaten Rokan Hilir Riau dinihari ini merayakan hari kesembilan setelah Imlek atau disebut dengan Chue Kau.Suasana kota ini identik dengan Hongkongnya Sumatra ini tampak meriah dan semarak pada saat pergantian hari pada pukul 00.00 WIB, Kamis (17/2/2005).Kemeriahan sudah terasa sejak Rabu malam pukul 23.00 WIB. Ribuan warga keturunan dari berbagai lapisan umur turun ke jalan di Kota Bagan, terpaut 400 km arah utara Kota Pekanbaru.Para muda-muda hilir mudik mengelilingi kota sambil membunyikan klakson kendaraan bermotor. Puncak kemeriahan berlangsung pukul 00.00 WIB. Mereka melakukan persembahyangan ke vihara.Usai sembahyang, Kota Bagan gegap gempita dengan pesta kembang api dan petasan. Pecahan kembang api yang pun mewarnai langit yang gelap. Belum lagi bunyi bersahut-sahutan yang ditimbulkan yang cukup memekakkan telinga.Hampir setiap rumah, terutama lapisan the have membakar petasan dan kembang api yang nilainya hingga ratusan juta rupiah, yang mereka datangkan dari Jakarta dan Singapura.Hingga pukul 03.00 WIB, bunyi petasan dan kembang api masih membahana. Bau asap bekas pembakaran petasan dan kembang api pun tercium di mana-mana. Ditambah lagi dengan bau hio (dupa) yang dibakar di depan rumah setiap warga.Warga juga melakukan konvoi keliling kota ke berbagai arah. Rencananya acara perayaan itu akan berlangsung hingga menjelang subuh."Sebenarnya pesta petasan dan kembang api bukan ritual Chue Kau. Hanya saja kali ini kita lakukan supaya meriah dan semarak saja. Kita yakin berapapun dana yang dihabiskan malam ini bakal terganti," kata Atong (38).Dituturkan dia, warga Tionghoa mempercayai pada hari kesembilan sejak Imlek para dewa sudah kembali ke rumah-rumah warga. Itu sebabnya mereka melakukan pemujaan terhadap dewa langit dan dewa bumi."Sejak malam Imlek hingga hari kedelapan juga merupakan hari baik bagi muda-mudi yang ingin mencari jodoh. Sedangkan pada hari kesembilan merupakan hari baik bagi mereka yang pernah bertengkar, seperti suami-istri, famili, dan teman. Sebab ini merupakan hari untuk bermaaf-maafan," tutur Atong.Kota Bagansiapiapi memang hampir seluruhnya ditempati oleh warga keturunan. Jika di kota lain warung-warung kopi milik warga keturunan Cina berada di dalam ruko, maka di kota ini justru berada di pinggir-pinggir jalan, lengkap dengan meja bulat dan kursi khas Cina.Menurut sejarah, penemuan kota ini memang dikembangkan oleh warga keturunan. Pada tahun 1894 hingga 1948, kota ini seluruhnya berpenduduk warga Tionghoa.Ketika Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, warga ini sempat tidak mengakuinya. Mereka justru mengibarkan bendera dari Thailand, Cina, dan Belanda. Penduduk Riau pada saat itu tidak kuasa menghadapi mereka. Mereka baru mengakui kemerdekaan Indonesia setelah ada pertempuran dengan tentara dari Sumatra Utara.
(sss/)











































