Pengguna Narkoba Makin Banyak, Keluarga Harus Jadi Benteng Utama

Pengguna Narkoba Makin Banyak, Keluarga Harus Jadi Benteng Utama

Mulya Nurbilkis - detikNews
Kamis, 21 Mei 2015 18:37 WIB
Pengguna Narkoba Makin Banyak, Keluarga Harus Jadi Benteng Utama
Jakarta - Angka pengguna narkoba ‎setiap tahun terus bertambah. Keluarga diharapkan menjadi benteng utama perlawanan terhadap narkoba.

"‎Ada banyak masalah kalau salah satu anggota keluarga yang narkoba. Yang diserang bukan hanya fisik namun juga psikis. Keluarga, harus jadi benteng utama," kata Kepala BNN Anang Iskandar dalam diskusi di Kantor BNN, Jl MT Haryono, Jaktim, Kamis (21/5/2015).

Dalam acara itu, hadir Sekjen KPAI Erlinda dan pemimpin redaksi detikcom Arifin Asydhad. Anang sempat memperlihatkan beberapa foto mantan pemakai yang kini sedang dirawat dengan kondisi fisik yang mengenaskan sebagai dampak mengkonsumsi narkoba dalam waktu lama.

Anang mengatakan seorang pemakai narkoba haruslah direhabilitasi. Karena itu, ia meminta bantuan keluarga agar tak malu mendaftarkan anggota keluarganya yang terlibat narkoba melalu call center BNN atau jalur lainnya.

"Jangan diumpetin, jangan dinilai sebagai aib. Lapor.‎ Dalam pasal 128, orang tua/wali wajib melaporkan anaknya kalau tidak diancam pidana 6 bulan," sambungnya.

Ia mengambil contoh Afriyani yang menabrak dan membuat 9 orang meninggal, artis Roger Danuarta, Tessy, dan yang terbaru pasangan suami istri Utomo Perbowo alias Utomo dan Nurindria Sari alias Iin yang menelantarkan 5 anaknya dan belakangan diketahui mengkonsumsi narkoba. Ia meminta jika salah satu anggota keluarga diketahui mengkonsumsi narkoba, maka harus segera dilaporkan agar direhabilitasi.

"Harus direhabilitasi," tegasnya.

Pemimpin redaksi detikcom‎ Asydhad mengapresiasi langkah BNN‎ yang terus menyadarkan masyarakat tentang bahaya narkotika melalui pendekatan dampak. Meski begitu ia menyarankan BNN juga harus terbuka dengan persoalan peredaran narkobanya.

"Kita pahami narkoba ini merupakan masalah besar di negara kita. Sekitar 2 persen dari jumlah populasi yang menjadi korban. Tapi persoalan narkoba ini sangat kompleks. Ada faktor politik, hukum, ekonomi dan sosial yang ada di dalamnya. ‎Tapi persoalan rehabilitasi kan persoalan hilir. BNN juga harus terbuka untuk persoalan hulunya," kata Asydhad.

"Rehab itu hilir. Tapi yang belum banyak soal informasi yang disampaikan pada media di hulunya. Dari mana dia dapat, bagaimana peredarannya, seriuskah pemerintah memberantas. Karena jika melihat kasus Freddy membuat saya terenyuh bagaimana mengendalikan dari dalam penjara?" sambungnya.

(Mulya Nurbilkis/Moksa Hutasoit)


Berita Terkait