"Jalan keluarnya adalah harus ada tekanan dari internasional agar Myanmar mengakui kembali Rohingya. Harus ada tekanan yang konkret karena ini pelanggaran HAM berat," kata Din dalam diskusi bertajuk 'Nestapa Kemanusiaan Save Rohingya' di gedung Dakwah Muhammadiyah, Jl Menteng Raya, Jakarta Pusat, Kamis (21/5/2015).
Din berpendapat yang menimpa etnis Rohingya adalah nestapa kemanusiaan karena mereka tidak hanya mengalami penelantaran namun juga penindasan dan pengusiran dari rezim militer yang saat ini berkuasa di Myanmar.
"Mereka di kawasan itu berabad-abad kemudian dikatakan sebagai bukan warga negara Myanmar sehingga mereka saat ini dinyatakan tidak berkewarganegaraan. Ini masalahnya," urai Din.
Di sisi lain, Bangladesh yang disebut sebagai nenek moyang Suku Rohingya ini juga tak mau menerima kembali. Kemudian mereka mencari suaka ke negara lain dengan menumpang perahu.
Selama 4 bulan, mereka terombang-ambing di laut tanpa kepastian tujuan. Sebab negara yang disinggahi seperti Thailand, Malaysia dan bahkan Indonesia sempat menolak mereka. Kemudian setelah pertemuan 3 negara itu, disepakati untuk menampung sementara para manusia perahu tersebut.
(Nur Khafifah/Hestiana Dharmastuti)











































