Seorang ibu rumah tangga bernama Maria D Andriana menceritakan peristiwa itu kepada detikcom, Kamis (21/5/2015). Beberapa bulan lalu dia membeli beras dari sebuah toko beras di daerah Harapan Indah, Bekasi, Jawa Barat.
Diceritakan Maria, di toko beras itu, dia ditawari beras eceran. Beras ini warnanya putih bersih dan harganya pun terbilang cukup mahal.
"Beras ini harganya waktu itu Rp 20 ribu per kilo. Lumayan mahal kalau beras eceran seperti itu harganya. Warnanya lebih putih, lebih bagus. Jadi saya pikir ini beras bagus, dan saya beli," kata Maria.
Beras itu kemudian dimasak Maria menggunakan penanak nasi di rumahnya. Ketika beras diangkat, ia heran ada lembaran plastik yang lengket di dalam penanak nasi itu.
"Ketika saya masak, saya nggak perhatikan. Pas saya buka rice cooker, kok kayak ada lembaran-lembaran plastik. Tapi saya pikir waktu itu, karena saya teledor saja. Nggak berpikir yang lain-lain," ucap Maria.
"Lembaran plastik itu lengket-lengket di rice cooker saya. Akhirnya rice cooker-nya saya buang," sambung Maria. Karena tak curiga, ia memasak lagi beras itu dan mengkonsumsi beberapa kali bersama suaminya. Bahkan dia membeli lagi beras itu di toko beras yang sama.
Tak beberapa lama setelah itu, kondisi kesehatan diri Maria dan suami menurun. Namun lagi-lagi ia tak curiga karena mengira itu memang disebabkan karena masalah kesehatan mereka.
"Gejalanya kayak orang kolesterol tinggi. Kayak kebas, kaku," ujar Maria.
Ia pun mulai curiga dengan beras yang ia konsumsi terakhir sekitar minggu lalu itu. Soalnya ketika dia dan sang suami pergi ke luar negeri dan mengkonsumsi makanan berkolesterol, mereka baik-baik saja.
Saat kembali memasak beras itu, Maria memperhatikan cukup detail. Ketika beras dicuci, di atas airnya terlihat ada lapisan seperti agar-agar. "Pas beras dimasak, tercium seperti aroma plastik. Saya menduga itu beras plastik seperti yang ramai diberitakan saat ini," imbuhnya.
Karena curiga itu beras plastik, Maria pun tak mau lagi mengkonsumsi beras yang dibelinya tersebut. Ia berharap pemerintah dan polisi bisa mengusut kasus ini agar masyarakat tidak was-was. "Supaya konsumen dan pedagang tidak dirugikan," ujarnya.
(Herianto Batubara/Nurul Hidayati)











































