'Sihir' Irama Angklung di George Washington University

Laporan dari AS

'Sihir' Irama Angklung di George Washington University

- detikNews
Kamis, 21 Mei 2015 09:52 WIB
Sihir Irama Angklung di George Washington University
Penampilan murid-murid SMA School Without Walls di George Washington University (Foto: Shohib Masykur/detikcom)
Washington DC - Angklung, alat musik tradisional dari Jawa Barat yang terbuat dari bambu itu, sepertinya punya daya magis. Alunan suaranya yang mendayu mendatangkan kelembutan di telinga pendengar, memberi mereka rasa nyaman sekaligus ruang apresiasi terhadap keindahan.

Siang itu, Selasa (19/5/2015), irama angklung mengalun merdu di Lisner Auditorium yang terletak di salah satu kampus ternama Amerika Serikat, George Washington University. Adalah murid-murid SMA School Without Walls yang memainkan alat musik yang telah berusia ratusan tahun tersebut.

"Ini adalah kali ketiga angklung dimainkan oleh murid-murid School Without Walls. Kita sudah mulai dari tahun 2013, dan sejak itu setiap tahun secara rutin angklung mereka mainkan dalam acara International Day," tutur Tricia Sumarijanto, konduktor dari House of Angklung (HOA) sebagai pendukung utama program Angklung Goes to School (AGTS).

AGTS yang diprakarsai oleh Tricia sejak 2011 telah memperkenalkan angklung di lebih dari 20 sekolah di Washington DC dan sekitarnya. Tingkatannya beragam, mulai dari SD hingga SMA. School Without Walls, salah satu SMA terbaik di Washington DC, termasuk di antaranya.

Siang itu, di bawah arahan konduktor Tricia dan Jane Inkiriwang, 35 murid School Without Walls membawakan lagu What A Wonderful World karya Louis Mastrong dan Bengawan Solo karya Gesang Martohartono di hadapan ratusan hadirin. Tepuk tangan penonton membahana setelah kedua lagu usai dimainkan. Selain alunan angklung, mereka juga disuguhi tontonan video berisi sejarah angklung dan penjelasan mengenai dimasukkannya alat musik tersebut sebagai intangible cultural heritage oleh UNESCO pada tahun 2010.

"Angklung merupakan salah satu alat yang sangat efektif untuk memperkenalkan Indonesia kepada anak-anak di Amerika. Dengan metode interaktif, kita sekaligus memberi tahu nama-nama dan letak pulau di Indonesia lewat angklung. Nada yang berbeda mewakili pulau yang berbeda. Jadi anak-anak tidak hanya main musik, tetapi juga sekaligus mengenal Indonesia," papar Tricia.

(Triono Wahyu Sudibyo/Triono Wahyu Sudibyo)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads